Selasa, 12 Agustus 2014

En9kau adaLah Ummahat

    Membincangkan topik wanita memang tiada habisnya. Ia ditakdirkan berpasang-pasang persanding kaum adam. Kelak ialah yang berpengaruh besar membentuk suatu generasi dalam sebuah keluarga. Bila ditilik dalam kehidupan rumah tangga; peran suami adalah sebagai pembentuk visi, misi, pengarah impian sedang istri adalah eksekutornya. Untuk itulah wanita memiliki peran yang sentral. Seyogyanya tak boleh bertindak semau gue, tapi renungkan bahwa kelak ia akan menjadi pendidik bagi anak anaknya.
Kenanglah bagaimana ismail dan Ibunda Hajar yang ditinggalkan Nabiyullah Ibrahim di tempat tak bertanam dan tak bertuan. Sang kholilullah berjibaku melawan rasa cinta pada istri dan darah dagingnya sendiri. Rasa cintanya terkalahkan pada rasa cinta pada sang pemilik semesta. Andaikata episode ini hadir pada abad 21 sekarang tentunya akan banyak wanita yang bermuram durja. Melanggar HAM lah, tak bertanggung jawab lah, lelaki pengecut lah atau mungkin KDRT. Aktivis perempuan akan turun ke jalan untuk meneriakkan perlawanan dengan slogannya yang terindah yakni EMANSIPASI. Tuntutan kesetaraaan gender yang semata bertentangan dengan naluri kemanusiaan belaka. Dan merupakan sunnatullah semua hal yang bertentangan dengan naluri kemanusiaan akan hancur dengan sendirinya. (Sayyid Qutb “Ma alim Fii athariq”)
Menyimak perjuangan perjuangan Sang Nabi dengan Ibunda Hajar dan Ismail akan kita dapati peristiwa besar yang kelak menjadi peneguh dalam kehidupan rumah tangga kita. Cobalah bayangkan sejenak diri kita menjadi Ibunda Hajar. Bagaimana suasana kebatinan yang dirasakan kala itu? Mengapa ia tak berucap “Pantas saja kau lakukan ini, mungkin kau ingin bersenang senang dengan istri mudamu”. Ada yang mengatakan bila setengah ketampanan itu diberikan pada Nabiyullah yusuf maka setengah kecantikan akan diberikan pada Sarah – istri pertama nabiyullah Ibrahim. Seandainya beliau Ibunda Hajar mengatakan hal demikian pun, sebagai rasa kemanusiaan kita akan bersimpati kepadanya. Namun Allah SWT menjaga tutur katanya yang mulia.
Nabiyullah Ibrahim tak kuasa menyampaikan perintah Tuhan ini pada istrinya. Ia tinggalkan dan berbalik arah tanpa mengucap sepatah katapun. Ibunda hajar hanya bisa pandangi di tengah kebingungan yang melanda. Sayup sayup sosok ibrahim menjauh hanya terlihat bayang bayangnya hingga kaki Hajar bergegas mengejar. Tergopoh gopoh sempoyongan berlari di atas tandus gurun pasir sambil membawa bayi ismail yang masih merah. Ia berujar “Kenapa kau tinggalkan kami wahai Ibrahim?” Ia hentikan langkahnya remuk redam hatinya tak kuasa memandang wajah teduh itu, lantas nabiyullah ibrahim melanjutkan langkah tanpa berucap sedikitpun. Kejadian ini berulang hingga tiga kali.
Dengan segenap kekuatannya ia kejar sang suami, meski sesekali terjerembab dalam lautan padang pasir yang sunyi. Kali inipun Ibunda Hajar mengganti tanyanya “Apakah ini perintah Tuhan untukmu?” Berbaliklah sosok penuh wibawa itu, dipegang tangannya, ditatap kedua matanya seraya berkata dengan lembut “Betul ini adalah perintah Allah SWT”. Maka ditepislah kedua tangan nabi Ibrahim kemudian menggucap suatu kata yang akan dikenang oleh manusia hingga saat ini.
Kata agung yang menjadi kalimat ketuhanan terindah sepanjang kehidupan. “Bilakah ini perintah Allah SWT niscaya DIA tidak akan menyia-nyiakan kami.” Begitulah episode indah yang terkenang sepanjang masa. DIA pemilik kehidupan telah menuntun Ibunda Hajar untuk memilih kata kata yang mulia. Ia kalahkan ego individual seorang wanita meninggikan Allah di atas segalanya. Terlebih pula beliau adalah seorang Ummahat. Kelak kata kata indah yang meluncur dari lisan mulianya akan menemani Ismail dalam tumbuh kembangnya. Kata katanya adalah mentari yang merasuk ke dalam jiwa yang jernih. Ismail tumbuh menjadi sosok pemuda yang kuat berhati putih. Hingga Allah memilihnya menjadi seorang nabi penerus risalah samawi.
Kita mengambil banyak pelajaran dari kisah mulia di atas. Teruntuk para sosok yang kan menjadi ibu bagi anak anaknya. Sungguh engkau akan menjadi pendidik generasi. Tak elok kau tebar kata yang tak baik untukmu. Tersebab engkau adalah ummahat yang kan menyinari jiwa anakmu dengan kata mulia. Tersebab engkau adalah ummahat yang kan pancangkan pengaruh kebaikan dalam sosok putra tercinta. Berpredikat sebagai ummahat maka dirimu kan menjadi sempurna karenanya.


_dakwatuna.com_

Kamis, 26 Juni 2014

Perintah Puasa Ramadhan


Dalam Al-quran terulang kata shiyam sebanyak delapan kali, dalam arti puasa menurut pengertian hukum syari’at. Sedangkan tentang puasa Ramadhan uraiannya ditemukan dalam surat Al-Baqarah (2): 183, 184, 185, dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw. tiba di Madinah, karena ulama Al-quran sepakat bahwa surat Al-Baqarah turun di Madinah. Sementara para sejarawan menyatakan bahwa kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah.
Syarat Wajib Puasa (1)Islam, (2) Baligh, (3) Berakal, (4) Mukim (tidak sedang dalam perjalanan), (5) Kuat/sanggup

Syarat Sah Puasa
  1. Suci dari haid (menstruasi) dan nifas (baru melahirkan), (2) Berpuasa pada waktunya, yakni mengetahui waktu masuknya Ramadhan dengan rukyat (melihat bulan sabit; cukup terlihat oleh suatu kaum/negeri, maka seluruh umat Islam di dunia wajib berpuasa. Ini adalah pendapat sebagian besar ulama dan mazhab, seperti Hanafi, Maliki dan Hambali. Pendapat yang kuat ini dapat membentuk persatuan umat dalam melaksanakan Ibadah puasa, haji, Salat Idul Fitri dan Idul Adha).
Rukun-rukun Puasa
  1. Niat (setiap malam sebelum fajar terbit), (2) Imsak, yakni menahan diri dari makan, minum, serta hubungan seks sejak terbit fajar hingga terbenam matahari
Waktu Berpuasa
Perintah puasa Ramadhan adalah sejak terbit benang putih (fajar shadiq) hingga terbenam matahari.
Hal-hal yang Membatalkan Puasa
  1. Makan dan minum dengan disengaja (termasuk merokok, infus, dan lainnya), (2) Bersenggama (termasuk masturbasi/onani), (3) Muntah dengan sengaja, (4) Perempuan haid atau melahirkan ketika bulan Ramadhan , (5) Orang yang sedang berpuasa tetapi kemudian ia terserang ayan (epilepsi) atau gila.
Yang tidak Membatalkan Puasa
  1. Makan dan Minum karena dipaksa, (2) Mencicipi makanan, (3) Berkumur/ sikat gigi denagn siwak dan pasta gigi asal tidak masuk tenggorokan, (4) Mandi, (5) Berbekam, (6) Transfusi darah, (7) Junub (hadast besar) sampai masuk shubuh (hubungan seks atau mimpi).
Adab dan Sunnah Puasa
  1. Bersiap-siap menyediakan buka puasa (ketika masuk waktu maghrib), (2) Berbuka dengan ruthab (kurma setengah matang) atau air (bila tidak ada pembuka lainnya), (3) Membaca do’a berbuka puasa, (4) Memperbanyak membaca Al-quran beserta tafsirnya, (5) Melakukan I’tikaf di masjid (setelah tanggal 20 Ramadhan ).
Yang Dilarang (Haram/Makruh) dalam Puasa
  1. Mencela/mengumpat orang, (2) Mencaci-maki/menjelek-jelekkan muslim yang lain, (3) Berdusta, menhasut/adu domba, sumpah palsu, dan memandang wanita sampai menimbulkan rangsangan syahwat, (4) Siwak, berkumur, gosok gigi (siang hari), (5) Mencium dan memeluk istri dengan nafsu (syahwat), (6) Melakukan aktivitas yang melemahkan fisik (misalnya berbekam dan lain-lain)
Mereka yang Boleh tidak Berpuasa
  1. Musafir (sedang dalam perjalanan lebih dari 86 km, (2) Sakit berat (dan kronis sehingga tidak kuat berpuasa), (3) Perempuan haid, nifas, hamil, dan menyusui.
Keistimewaan Bulan Ramadhan
  1. Qiyamu Ramadhan (salat tarawih)
  2. Salat ini hukumnya sunnah, lebih baik dikerjakan berjamaah di masjid. Jumlah rakaatnya delapan (4x2 atau 2x4) ditambah dengan tiga rakaat witir, berdasarkan dari ketentuan Rasulullah saw; atau 20 rakaat (10x2 rakaat) ditambah witir tiga rakaat berdasarkan ketentuan Umar ra, dan telah menjadi "Ijma Sahabat" (kesepakatan para sahabat) dan pendapat Imam Ahmad bin Hambal, asy-Syafii dan Abu Hanifah; atau 36 rakaat (18x2 rakaat tarawih) ditambah 3 witr berdasarkan tindakan Ahlul Madinah pada masa Imam Malik dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
  3. Nuzulul Quran
  4. Terjadi pada malam ke-17 (dasarnya surat Al-Anfaal 41) atau 24 Ramadhan (dasarnya surat Al-Qadar: 1 dan Ad-Dukhan: 1-4). Meskipun tradisi nuzulul quran lazim diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan , namun pendapat yang mendukung turunnya Al-Quran malam ke-24 lebih kuat dan lebih mungkin benarnya, sebab malam lailatul qadar sebagai malam turunnya Al-quran bukanlah terjadi tanggal 17 Ramadhan.
    Memang Puasa dengan Al-quran adalah dua hal yang berkaitan. Karenanya para ulama dahulu dan kaum muslimin seluruhnya selalu menambah frekuensi membaca Al-quran pada bulan Ramadhan. Imam Asy-Syafii sebagai contoh, mengkhatamkan Al-quran sebanyak 60 kali dan tidak termasuk bacaan ayat (surah) dalam salat, sepanjang Ramadhan.
  5. Malam Lailatul Qadar
Malam tersebut mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Ibadah yang dilakukan pada malam tersebut nilai (pahala) nya lebih baik dari seribu bulan beribadah di luar malam tersebut (bayangkan ada 83 tahun plus 4 bulan). Rasulullah saw. memerintahkan kepada kita untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir (21 sampai 29 Ramadhan ), dan disunnahkan bagi kaum muslimin i’tikaf di Masjid.

Kamis, 19 Juni 2014

Ikhwan Yang Kucintai, Menikah Dengan Murabbiyahku

dakwatuna.com - “Assalamu’alaikum…,” sapaku pada Kak Amanda yang tengah sibuk dengan ponselnya di kamar.
“Wa’alaikum salam… Hei, An, sudah pulang kamu? Tumben cepat?” celoteh Kak Amanda sambil terus sibuk memekuni layar ponselnya.
“Hari ini enggak jadi liqa’, murabbiyahku tiba-tiba sakit,” ucapku tak bersemangat.
“Oh, ya sakit apa dia?”
“Katanya sih, maagnya kambuh.” Kak Amanda hanya manggut-manggut mendengar jawabanku barusan.
“Senang banget, Kak. Sedang SMS siapa sih?”
“Siapa lagi?” Kak Amanda tersipu mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.
“Kakak sedang SMS-an sama Kak Fatih?” selidikku.
“Yupz! Tepat sekali! Dia itu sangat menyenangkan ya, An?” nampak sekali raut kebahagiaan terpancar dari wajah manisnya yang putih mulus.
Astaghfirullah, Kakak! Kak Fatih itu sedang halaqah, Kak. Jangan diganggu dong!” tegurku pada kakakku yang sepertinya sedang terserang wabah virus merah jambu itu.
Kak Fatih adalah murabbi kelompok liqa ikhwan di sekolahku. Dia juga seorang aktifis rohis di kampusnya yang tak jauh dari sekolahku. Karena itulah dia beserta teman-temannya berinisiatif membina kelompok keagamaan di sekolahku.
Kak Amanda mengenalnya saat menjemputku di sekolah suatu sore. Saat menungguku yang masih ada agenda liqa itulah dia mengenal Kak Fatih yang kebetulan juga tengah menunggu temannya. Sebenarnya, Kak Amanda dan Kak Fatih satu kampus. Hanya saja, mereka berlainan fakultas.
Rupanya, perkenalan sore itu menghadirkan keakraban di antara mereka. Sejak saat itu, kuperhatikan tingkah Kak Amanda mulai berubah. Dia mulai rajin shalat, mengaji, dan membenahi pakaiannya dari yang semula agak ketat menjadi pakaian longgar yang tidak lagi menampilkan bentuk tubuhnya, serta mengganti jilbabnya menjadi jilbab lebar yang benar-benar jilbab, bukan lagi jilbab yang dililit-lilit sedemikian rupa.
Subhanallah… Alhamdulillah ya Allah. Engkau telah memberikan sedikit demi sedikit hidayah-Mu pada Kak Amanda,” ucapku dalam syukurku.
Belakangan, baru kuketahui bila perubahan-perubahan kakakku itu termotivasi oleh Kak Fatih. Pernah suatu ketika, aku iseng membuka kotak pesan kakakku saat dia tengah di kamar mandi. Kutemukan seabrek pesan singkat dari Kak Fatih. Kak Amanda begitu rajinnya melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar keislaman dan Kak Fatih pun dengan sabarnya menjelaskan secara detil setiap pertanyaan Kak Amanda.
“Ya, Allah… sudah sedekat inikah mereka rupanya?” pekikku dalam hati
***
“An, kok bisa ya Kak Fatih baik banget gitu?” tanya Kak Amanda selepas shalat Isya.
“Aduh, Kakak ini. Baru juga selesai shalat sudah ngomongin dia lagi. Jangan-jangan tadi pas lagi shalat, Kakak mikirin dia, ya?” Kak Amanda tersipu malu.
“Hmm… memang… baik gimana, Kak?” selidikku.
“Ya, baik. Dia itu lembut, sabar, udah gitu perhatian lagi.”
“Kakak suka sama Kak Fatih?” lagi-lagi aku menangkap rona merah pada wajah kakak.
“Cewek mana sih, An, yang nggak suka sama ikhwan sejati macam dia? sederhana dan bijaksana,” dengan semangatnya pujian demi pujian terhadap Kak Fatih terlontar dari bibir Kak Amanda.
“Hmm… Dia memang sejatinya ikhwan sempurna, Kak. Ya, setidaknya untuk masa sekarang ini. Tapi sebaiknya Kakak hati-hati.”
“Hati-hati? Maksud kamu??”
“Pastinya, bukan cuma Kakak yang memiliki perasaan seperti itu untuk seorang ikhwan sebaik dia. Annisa cuma nggak ingin nantinya Kakak menjadi kecewa karena terlalu dalam mengharapkannya,” ucapku sok menasihati.
“Kamu juga menyukainya, An?” tanya Kak Amanda harap-harap cemas.
“Kak… Annisa ini masih terlalu kecil untuk hal seperti itu. Baru juga kelas 3 SMA.”
“Gimana kalau ternyata Kak Fatih memilih kamu?” aku tersentak menerima pertanyaan itu.
“Jodoh itu sudah ada yang mengatur, Kak. Yang pastinya, Annisa bakal bersyukur banget bisa mendapatkan hatinya. So, Kakak harus menerimanya dengan ikhlas, ya? hehe,” jawabku berusaha santai.
Kak Amanda melempar gulingnya ke arahku, “Huu..!”
Aku menarik selimut dan membenamkan diriku di dalamnya. Membiarkan kehangatannya memelukku di sepanjang malam. Mengusir gundah yang tiba-tiba bertebaran dalam hatiku bersama secercah cemburu yang bergelayut di jiwaku.
***
Ada perasaan yang mulai mengganggu. Saat setiap hari aku harus menyaksikan raut kebahagiaan di wajah Kak Amanda setiap dia memegang ponselnya. Saat setiap malam aku harus mendengarkan cerita kakakku satu-satunya itu tentang kekagumannya pada Kak Fatih. Perasaan apa ini? Apa ini namanya cemburu?
Perlahan, aku mulai menjaga jarak dengan murabbi kelompok ikhwan itu. Aku nggak ingin perasaanku jatuh terlalu dalam pada kesehajaan ikhwan dambaan itu. Aku pun tak ingin membuat Kak Amanda kecewa bila dia mengetahui kedekatanku dengan Kak Fatih.
“Sudahlah, An. Nggak penting mikirin hal begituan. Mending fokus sama halaqah aja. Mana sebentar lagi Ujian Nasional,” aku berbicara pada diriku sendiri.
Terkadang… begitu ingin bercerita kepada murabbiku tentang kemelut perasaan ini. Tapi, aku malu. Aku malu karena telah gagal menjaga hatiku.
“SMS yang nggak penting itu sebaiknya nggak usah terlalu dihiraukan. Untuk menjaga hati aja,” begitulah kata murabbiyah cantikku itu saat aku kepergok tengah berSMS-an ria dengan Kak Fatih.
Ya, jauh sebelum Kak Amanda mengenal dan menjadi akrab dengan Kak Fatih, aku telah lebih dulu akrab dengannya. Aku sering berbagi cerita dengannya dan Kak Fatih sendiri pun seolah tak lagi segan untuk bercerita apapun padaku. Dia begitu mengerti aku dan selalu memberikan semangat ketika aku mulai goyah. Kak Amanda nggak pernah salah. Karena Kak Fatih memang sangat baik dalam memperlakukan perempuan. Dia sangat lembut, terbuka, dan begitu dewasa. Mungkin, memang seperti itulah sikapnya pada setiap perempuan. Tapi sejauh ini, kurasa aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak laki-laki yang begitu menjaga dan melindungi.
***
Aku menghempaskan tubuhku di kasur yang lumayan empuk. Hari ini terasa begitu melelahkan. Padahal, aktifitasku berjalan seperti biasanya, sekolah dan ikut ekstra kurikuler –Mading, KSI (Kelompok Studi Islam), Pramuka- lantas pulang ke rumah.
Usai mandi, aku berjalan menuju rak buku yang terletak di sudut kamar, bermaksud meraih novel kesayanganku yang belum habis kubaca seri kelimanya. Tetapi entah kenapa, sorot mataku menyinggahi sebuah buku bersampul kuning yang tidak terlalu tipis dan tanganku pun tergerak untuk meraihnya.
“Ini kan, buku Kak Fatih?” gumamku setelah mengenali buku yang sering di tenteng sang murabbi itu. Aku menemukan sehelai kertas biru beraroma di antara halaman buku itu. Dengan perlahan dan sangat hati-hati kubuka lipatan kertas manis itu.
Assalamu’alaikum, Kak Fatih…
Maaf telah lancang menuliskan surat ini untuk Kakak. Tapi, hanya lewat surat ini ana berani untuk menyampaikan rasa terimakasih kepada Kakak yang selama ini telah bersedia membimbing dengan penuh kesabaran.
Jujur, ana sangat bersyukur bisa mengenal Kakak. Karena melalui Kakaklah, ana dapat memahami akan pentingnya menjaga diri dan merasakan keindahan Islam. Ana benar-benar sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Kakak. Walaupun akhirnya, persahabatan ini memiliki arti lain di hati ana. Maaf, ana telah jatuh cinta pada kesederhanaan dan kesahajaan Kakak. Jika boleh, ana sangat mengharapkan Kakak untuk menjadi imam ana ke surga nantinya. Aaamiin.
Wassalam…
-Amanda-
Tubuhku tiba-tiba gemetar membaca isi tulisan itu. Kak Amanda… Kak Amanda berniat untuk mengungkapkan perasaannya pada Kak Fatih. Bahkan, secara terang-terangan dia mengatakan bahwa dia mengharapkan Kak Fatih untuk menjadi imamnya. Itu artinya….
Setetes butiran bening jatuh dari mataku. Segera kuseka dengan jemariku sebelum tetesannya terlanjur melunturkan ungkapan hati itu. Kulipat kembali kertas itu dan kukembalikan ke tempatnya. Aku pun kembali menuju ranjang tanpa sempat memungut buku yang tadinya ingin kubaca. Kubenamkan wajahku di bantal, dan tangisku pun pecah menyeruak.
Aku tau dan aku sadar, cemburu itu… benar adanya.
            Ada… saat kutahu dia begitu dekat denganmu.
            Jauh melebihi kedekatanku dengannya
            Aku tau dan aku sadar, cemburu itu…
            Tak sepantasnya membenam di jiwaku.
            Karena aku… Bukan siapa-siapa…
Hari ini, aku baru benar-benar mengerti tentang kemelut yang kurasakan selama ini. Ya, ternyata, benar itu adalah cinta. Ternyata, aku pun jatuh cinta pada Kak Fatih. Tapi aku masih terlalu kecil untuk berbicara tentang cinta. Mungkin, Kak Amanda memang lebih berhak mendapatkan Kak Fatih. Kak Amanda cantik, baik, dan usia mereka hanya terpaut 2 tahun lebih tua Kak Fatih. Sedangkan aku jauh lebih muda 4 tahun dari Kak Amanda.
Ya, Allah… Ajarkan aku untuk ikhlas melepaskannya.
***
“Annisa…,” Kak Amanda memanggil saat aku hendak pergi ke sekolah bersama ayah.
Aku pun menghentikan langkah dan membalikkan badan.
“Ada apa, Kak?”
“Hari ini kamu ada agenda liqa’, kan?” tanyanya penuh harap.
Aku hanya mengangguk heran, dan Kak Amanda menyerahkan sebuah buku padaku.
“Titip ini buat Kak Fatih, ya?”
Deg! Jantungku terasa berhenti berdetak. Kusambut buku itu dengan senyuman, kemudian berangkat ke sekolah diantar ayah.
“Assalamu’alaikum, An. ‘Afwan, Kakak nggak bisa liqa’ hari ini. Ada kepentingan yang nggak bisa ditinggalkan. Minta tolong disampaikan sama teman-teman, ya? Syukron,” Kak Nabila, murabbiku mengirim SMS pada jam istirahat pertama. Aku pun langsung mengabari teman-teman yang lain.
“Assalamu’alaikum, An. Hari ini Kakak nggak bisa liqa’. Tapi, tadi sudah Kakak sampaikan sama Ikhsan. Hanya saja, sore ini Kakak pingin ketemu kamu, bisa?” tak lama berselang, SMS Kak Fatih ikut-ikutan nimbrung di kotak masukku.
“Wa’alaikum salam. Insya Allah bisa, Kak. Jam berapa?”
Ba’da Ashar, ya? Sebaiknya ketemu di mana? Di sekolah atau Kakak mampiri ke rumah kamu aja?”
“Hmm… ba’da Ashar sih ana udah di rumah, Kak. Kalau nggak repot, boleh deh Kakak aja yang ke rumah.”
“Oke… kalau begitu, nanti sore Kakak langsung ke rumah Annisa aja.”
“Sip, Kak.”
Obrolan via SMS itu berakhir seiring berbunyinya bel delapan kali pertanda jam istirahat telah berakhir.
Sepulang sekolah, kuserahkan kembali buku yang tadi pagi dititipkan Kak Amanda padaku.
“Lho, kenapa?”
“Hari ini nggak ada liqa’, Kak?” kulihat seraut wajah yang dilanda kekecewaan tepat di hadapanku.
“Tapi, katanya Kak Fatih hari ini mau ke sini, ba’da Ashar.”
“Serius kamu, An? Mau ngapain?” senyum mengembang di bibir Kak Amanda seolah menghapus selaksa kesedihan yang tadi sempat singgah. Aku pun tersenyum mengiyakan pertanyaan kakakku itu kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Usai shalat Ashar, aku melanjutkan membaca novel kesayanganku. Sementara Kak Amanda nampak tengah sibuk memoles dirinya di depan cermin.
“Apa mungkin kali ini, Kak Amanda akan nekat ngomong langsung tentang perasaannya ke Kak Fatih, ya? bukan lagi melalui surat.” gumamku dalam hati.
Bersamaan dengan itu, kudengar ucapan salam dari luar rumah disertai ketukan pintu tiga kali.
“An,” Kak Amanda mengisyaratkan aku untuk membukakan pintu. Aku pun beranjak dari tempat tidur.
“Wa’alaikum salam…,” sahutku sembari membuka pintu.
“’Afwan, An, mengganggu waktunya sebentar.”
Nggak apa-apa, Kak. Mari silakan masuk,” aku mempersilakan sang murabbi itu masuk dan duduk di ruang tamu.
Tak lama kemudian, Kak Amanda muncul dengan membawa baki berisi air minum dan satu toples makanan ringan, lalu menyuguhkannya pada Kak Fatih.
“Silakan, Kak. Oh iya, tumben ke sini. Ada apa, Kak?” aku melirik sekilas pada Kak Amanda.
“Ana cuma ingin mengantarkan ini saja secara langsung sama kalian. Karena ana sudah menganggap kalian ini seperti saudara sendiri. Ana berharap kalian berkenan untuk hadir,” ujar Kak Fatih tanpa basa-basi.
Aku menerima amplop hijau itu dan perlahan mengambil isinya kemudian membacanya.
            Walimatul ‘Ursy
            Muhammad Al-Fatih Fadhillah dengan Nabila El-Jihan.
            Minggu, 18 Maret 2012
Aku tersentak membaca undangan itu, ada selaksa kesedihan yang menyeruak dalam bathinku.
Barakallahu… Selamat ya, Kak. Nggak nyangka banget kalau Kakak ternyata berjodoh dengan murabbiku sendiri, Kak Nabila,” ucapku berusaha tersenyum sembari menyerahkan kertas undangan itu pada Kak Amanda. Kulihat Kak Amanda hanya terdiam dengan genangan airmata yang berusaha disimpannya agar tak sampai terjatuh di hadapan Kak Fatih.
“Alhamdulillah… Orangtua ana yang memilihkan dia untuk ana. Baiklah, kalau begitu ana pamit ya? Terimakasih atas waktu kalian. Ana benar-benar berharap kalian berkenan hadir di walimah ana nanti,” Kak Fatih pun beranjak dari tempat duduknya. Aku mengantar kepulangannya hingga depan pintu.
***
Aku menatap Kak Amanda dengan wajah sendu. Dapat kurasakan kepedihan mendalam yang dirasakan Kak Amanda saat ini. Kak Amanda membalas tatapanku dengan sejuta gambaran kesedihan di raut wajahnya. Kemudian dia beranjak dan menghambur memelukku.
“An, ternyata benar ya. Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik dan begitu pun sebaliknya.”
“Sudah lah, Kak. Mungkin memang bukan Kak Fatih yang terbaik untuk Kakak.”
“Bukan Kak Fatih yang nggak baik buat Kakak, An. Tapi justru Kakaklah yang belum baik buat dia.”
“Allah pasti punya rencana indah di balik semua ini,” ucapku berusaha menegarkan Kak Amanda, atau lebih tepatnya menegarkan hatiku.
Kak Amanda berlari menuju kamar. Menumpahkan segala rasa indah yang telah tergores di hatinya. Sementara itu, aku memungut kembali kertas undangan bernuansa hijau itu. Mencoba meyakinkan lagi hatiku. Bahwa perasaanku telah terbunuh oleh pernikahan para murabbiku.

Minggu, 11 Mei 2014

100 Days




3 Days
Sepercik cahaya menyinari satria yang setelah selesai ku cuci. Pagi itu angin berhembus sepoi – sepoi menggerakkan dedaunan di depan rumahku. Membuat jum’at pagi ini semakin mempesona. Seperti biasa aku dengan celana kain, kemeja, sepatu fantofel, serta seuntai jam tangan di tanganku. Siap beraksi menuju medan area. Selangkah sebelum aku menaiki satriaku,  tiba – tiba aku teringat sesuatu. Aku teringat undangan perkawinan dari temanku. Nisa dan Ridwan. Nisa teman dekatku, kini dia akan bersanding dengan Ridwan yang juga temanku seperjuanganku. Beberapa menit kemudian aku terbangun dari lamunanku, dan aku segera berangkat ke medan area tempat aku mengajarkan ilmu – ilmu yang  ku miliki pada mahasiswaku.

***

Tak terasa jam berjalan begitu cepatnya hingga jum’at malam sabtu pun tiba. Lagi – lagi aku harus berjuang melawan rasa lelah demi temanku Nisa. Jum’at malam ini adalah acara resepsi pernikahan Nisa dan Ridwan. Yang sebelumnya telah melakukan akad nikah pada jum’at pagi. Dengan semangat ’45 aku berangkat ke tempat pernikahan Nisa bersama satria yang selalu setia padaku. Tiba di tempat resepsi, aku segera memarkirkan satria kesayanganku. Ternyata resepsi perniahan Nisa di gelar di sebuah lapangan seluas samudra dengan tenda berwarna Ungu.  Sungguh terkesan megah dan mewah bagai pernikahan putri raja. Dengan hati yang tenang aku mulai memasuki pintu utama menuju pelaminan Nisa dan Ridwan. Dari depan pintu itu ku lihat Nisa begitu cantik sekali, bagai seorang bidadari. Saat matanya yang indah menatap tajam padaku seakan mempersilahkan aku memasuki istananya.  Di samping Nisa ada Ridwan yang juga menatap ke arahku dengan tatapan bahagia. Aku tersenyum lebar ke arah dua sejoli itu. Ingin rasanya aku cepat sampai di depan mereka. Tapi sayang, aku harus melewati sebuah antrian panjang untuk menuju pelaminan Nisa dan Ridwan.  Semangatku semakin menggebu – gebu untuk cepat bertemu dengan mereka. Perlahan kaki ku langkahkan melewati sebuah karpet merah.  Ku telusuri karpet merah itu hingga sampailah pada suatu tangga. Tangga itu memiliki 5 buah anak tangga. Mulailah kaki ku pijakkan pada tangga itu. Tetapi saat kakiku memijak anak tangga ke- 3, tiba –tiba tubuhku tak bisa digerakkan. Jantungku berdegup kencang. Dag – dig – dug dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya ku sadari bahwa tubuhku menopang seorang wanita cantik jelita, bibirnya merah merona,  pipinya indah dengan dua lesung pipi yang membuat kecantikannya semakin terpancar.  Aku tak bisa berbuat apa – apa melihat gadis di depan mataku ini. Ingin rasanya aku memilikinya, menjadikan dia wanita yang yang akan ku temani seumur hidupku.
“makasih mas”, sahut wanita itu. Aku pun terkejut mendengar suara itu. Suara  yang indah bagai alunan melodi. Aku pun segera menjawab perkataan wanita itu.
 “ oh, iya sama – sama”, jawabku dengan senyuman terinadah. Sejenak wanita itu bergumam, ternyata high heelsnya patah satu, Ingin rasanya aku menolong  dan berlama – lama dengan wanita ini, tapi aku sadar, aku memiliki tujuan utama yang lebih penting dari ini.  Aku harus cepat sampai di pelaminan Nisa dan Ridwan, karena mereka telah menugguku terlalu lama. Segera ku tinggalkan wanita itu menuju pelaminan Nisa dan Ridwan. Dan akhirnya sampai juga aku di hadapan kedua temanku ini.  Aku bersalaman memberi selamat pada Nisa. Teman yang selama ini terlalu baik padaku. Aku juga menyalami dan memeluk Ridwan yang juga teman seperjuanganku.
 “sini Day! Aku akan memperkenalkanmu  pada sepupuku.”kata Nisa.
“ oya..., siapan Nis?” jawab ku dengan rasa penasaran.
“ ini kenalkan sepupuku Rina, Rina Finicia Putri lengkapnya” kata Nisa sambil memperkenalkan seorang wanita cantik padaku.
Aku pun terkejut melihat wanita yang dikenalkan Nisa padaku. Wanita itu adalah wanita yang ku tolong beberapa menit yang lalu.
“ hai, aku Rina” ucap wanita itu dengan menyodorkan tangannya padaku untuk bersalaman.
Aku pun segera menjabat tangan Rina, “Aku Day”, jawabku dengan singkat.
Akhirnya aku dan Rina pun kini sudah saling mengenal. Kita berfoto bersama di atas pelaminan Nisa dan Ridwan. Setelah aku selesai berfoto dengan sahabatku, aku menuju tempat perjamuan. Aku ingin mengisi perutku yang sejak sore tadi sudah keroncongan. Setelah tiba di tempat perjamuan itu, tiba – tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Dan ternyata orang itu adalah Rina, wanita yang parasnya cantik jelita. Semakin ku memandang wanita ini, semakin besar keinginanku untuk memilikinya.
“ hai Day”, sapa Rina padaku.
“ iya Rina, ada apa?” jawabku dengan lembut.
“ kamu ingin makan?” tanya Rina padaku.
“ oh tidak, aku sudah kenyang kok ”, jawabku dengan sedikit berbohong.
“ aku kira kamu ingin makan dulu” kata Rina.
“ tidak, aku ingin segera pulang Rina, rasanya badanku membutuhkan istirahat ” jawabku.
“ aku pulang dulu ya Rina, sampai jumpa di hari esok “ kataku sambil meninggalkan Rina.
Aku pun segera keluar dari lapangan tempat resepsi Nisa dan Ridwan. Aku segera mengambil satria kesayanganku. Aku segera menghidupkan mesin motorku kemudian berjalan perlahan. Di pinggir jalan tepat di  depan lapangan tempat resepsi pernikahan Nisa dan Ridwan ada sesosok wanita yang cantik sedang berdiri di sana. Ku hampiri wanita itu.
“ hai Rina, mau pulang? Tanya ku dengan harapan Rina mau pulang bersamaku.
“ iya Day, aku ingin pulang” jawab Rina dengan senyuman maNisnya.
“ rumah kamu di mana?” tanyaku pada Rina
“aku di Cilandak Day”, jawab Rina.
“oh kebetulan kita searah, mau ikut denganku?” tanyaku memberi tawaran.
“ aku sudah di jemput Day” jawab Rina dengan pelan.
Mendengar jawaban itu hatiku sedikit goyah, tapi tak mengapa, aku ingin menunjukkan jiwa ksatria pada perempuan cantik ini.
“kalau begitu aku temani menunggu jemputanmu ya?” tawarku pada Rina.
“ boleh aja, asal kamu tak keberatan” jawab Rina.
“ ah tak apa” jawabku dengan senyum lebar.
Di tengah canda kami tiba – tiba datang sebuah mobil mewah dan berhenti tepat di depan kami.
Kemudian keluarlah sesosok lelaki yang gagah keluar dari mobil itu dengan membawa ipad di tangan kiri dan blackberry di tangan kanan.
“ kenalkan ini Arul, tunanganku Day” kata Rina menyuruhku berkenalan.
“Arul ” kata lelaki itu dengan menyodorkan tangan mengajakku berkenalan.
“ Day” jawabku dengan tegas.
“ kami pulang dulu ya Day” kata Rina
“oh iy, hati – hati” jawabku pada Rina.
Rina dan Arul pun meninggalkan aku dengan mobil mewah itu. Akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan tempat pertemuan kami itu.
***

Wajah cantik itu selalu terbayang dipikiranku, ingin rasanya aku memiliki wanita itu. Tapi sayang, wanita berparas cantik itu sudah menjadi milik orang lain.
Sambil melamun di kasur warisan emakku aku mengingat – ingat kejadian yang terjadi saat bertemu dengan Rina tadi. Tiba – tiba lagu ST 12 “cinta tak harus memiliki” berbunyi dari blackberryku. Ternyata ada sebuah sms. Aku pun segera membukanya. Dari sebuah nomor yang tak ku kenal, xxx029. lalu ku baca pesan yang masuk.

 ‘besuk aku ingin bertemu dengan mu Day, di Taman Cibubur jam 09.00 WIB. Ku tunggu kedatanganmu’
@Rina

Aku kaget sekali melihat pesan baru itu. Sebenarnya ada apa, apa yang diinginkan Rina sehingga dia mengajakku bertemu. Entah apa itu semuanya akan terjawab besok.
***


Waktu pun sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB aku pun segera mandi, berdandan serapi mungkin. Dan tepat pukul 08.00 WIB aku berangkat menuju Taman Cibubur. Tepat jam 08.45 WIB aku sampai di taman itu. Ku cari sosok Rina, tapi tak ku temukan juga. Waktu pun menunjukkan pukul 09.00 WIB tepat pada waktu yang dijanjikan Rina padaku. Tetapi, sosok Rina tak datang juga. Aku pun masih setia menunggu Rina. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 09.45 WIB. Sosok Rina tak ku temukan juga. Dan pada akhirnya pada pukul 10.00 WIB Rina belum datang juga. Akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan taman itu. Saat di gerbang depan taman itu tiba tiba seorang wanita memanggil namaku.
“ Day “ teriaknya dengan keras. Ternyata wanita itu Rina.
“ maaf aku terlambat Day” ucap Rina dengan nafas terengah – engah.
“ ini untukmu Day” kata Rina sambil memberiku sepucuk kertas biru berisi sebuah tulisan.
“ aku pergi dulu ya Day, soalnya aku ada kelas PAUD”  kata Rina sambil meninggalkanku.
Aku pun hanya bisa terdiam dan bingung dengan hal yang terjadi baru saja. Aku tak mengerti apa maksud Rina dengan mengajakku bertemu di taman kemudian dia meninggalkanku begitu saja. Aku pun penasaran dengan kertas yang diberikan Rina padaku. Segera ku baca surat itu.

‘ datanglah ke rumah Nisa ba’da magrib’

Aku semakin tak mengerti maksud Rina. Aku pun segera mengirim sms pada Nisa dan menanyakan sebenarnya ada acara apa di rumahnya. Ternyata sabtu malam minggu itu adalah hari pernikahan Rina dan Arul. Aku kaget sekali mengetahui berita itu. Hati ini berasa hancur berkeping – keping, seakan tak kuat mendengar berita ini. Aku pun segera meninggalkan taman itu dengan perasaan yang tak karuan.
***

Sabtu malam minggu pun tiba. aku teringat dengan undangan Rina. Tapi rasanya aku tak kuat melihat wanita itu menikah dengan orang lain. Aku pun memutuskan untuk tidak datang ke tempat Nisa. aku memilih untuk menenangkan diri di kasur empuk warisan emakku.
***

Minggu dini hari tepatnya pukul 02.30 WIB seperti biasa aku melaksanakan ibadah sholat tahajud. Setelah selesai sholat, lagu ST 12 melantun dari blackberryku. Aku pun segera membuka pesan baru itu. ternyata dari xxx029.
 ’ mengapa kau tak datang ke rumah Nisa?’
aku pun hanya membaca sms itu tanpa membalasnya.

***

 Pagi pun tiba, mentari menyinari dunia ini dengan keindahan cahayanya. Seperti biasa aku melakukan aktivitas rutin ku. Aku bersiap – siap untuk menuju tempat mengajarku. Sebelum berangkat aku memanasi satriaku terlebih dahulu. Belum sempat aku selesai memanasi motorku, tiba – tiba datang Nisa dengan motor beatnya, kemudian berhenti di depanku.
“ Day, ayo ikut ke rumahku sebentar” kata Nisa dengan tegasnya.
“ ada apa Nis, ko buru – buru sekali? “ jawabku penasaran.
“ sudahlah ayo ikut denganku!” perintah Nisa kepadaku sambil menarikku agar membonceng dia.
Aku pun menurut saja dengan kata – kata Nisa. aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku semakin bingung dengan keadaan ini. Sebenarnya apa yang terjadi?
***

Setelah sampai di rumah Nisa, ku lihat pelaminan yang masih tertata dengan indah. Pasti itu pelaminan Rina dan Arul tadi malam.tebakku dalam hati.
“ ayo Day ikut aku!” peRinatah Nisa pada ku. Aku pun menurut saja dengan kata – kata Nisa.
Kemudian sampailah aku pada sebuah kamar. Di kamar itu ada wanita cantik. Wanita yang ingin sekali ku miliki. Wanita yang menjadi pujaan hatiku.
Wanita itu terbaring dengan kecantikan yang masih lengkap diwajahnya. Ingin sekali ku kecup keningnya untuk yang terakhir kali. Tapi sayang aku tak bisa melakukan itu.
“ Ini bacalah Day” kata seorang ibu sambil menyodorkan sebuah kertas padaku.
Aku segera membaca isi kertas itu.
‘ Aku ingin Day mengimamiku untuk yang terakhir kalinya’
Rasanya sesak sekali dada ini. aku tak mengharapkan hal ini terjadi.
Tetapi ini adalah sebuah kenyataan. Aku harus melaksanakan isi surat itu.
Dengan hati yang tenang aku segera menyolatkan jenazah Rina.
Setelah itu aku pun ikut mengatarkan dia ke tempat keabadiaannya.
Kini aku tak bisa melihat sosok wanita cantik itu kembali. Ku pandangi Nisan yang bertuliskan ‘Rina Finicia Putri’. Aku teringat kenangan 3 hari 2 malam. Aku mengenang wanita cantik ini. aku teringat saat berkenalan dengan wanita ini. saat nafas Rina terengah – engah menemuiku di taman itu. Saat Rina mengirim sms padaku. Dan akhirnya aku pun harus melupakan semua itu.
3 hari 2 malam yang memberi misteri padaku.



 100 Days
40 hari setelah kepergian Rina, aku pun berkelana mencari sesosok wanita yang bisa mengobati hati yang sepi ini. perlahan ku langkahkan kaki ini. hari itu hari minggu. Aku mengunjungi suatu tempat yang agak  jauh dari kontrakanku.  Tepatnya di km 97. tempat itu bernama Pasar Bunga. Pasar Bunga diadakan tiap seminggu sekali, dan adanya di minggu pagi.  Aku pun memulai perjalananku dengan satria yang selalu setia padaku.
Pagi itu aku mengendarai motorku dengan santai sambil menghirup udara segar di pagi hari. Tibalah aku di suatu jalan yang penuh tikungan. Di suatu jalan yang bertikung tajam ku lihat ada seorang wanita yang terjatuh dari motornya. Aku pun menghentikan motorku dan menghampiri wanita itu. Sepertinya aku kenal dengan sosok wanita itu. Ku coba mengingat, tetapi tak ingat juga. Ku coba mendekati wanita itu. Setelah dekat dengan wanita itu, akhirnya aku ingat dengan wanita itu. Sepertinya dia Luci. Ya Luciana Indrasari. Teman SMP ku  dulu. Aku segera menolong wanita itu bangun dari tempat dia jatuh.  Wanita itu bingung menatapku.
“ hay” sapaku pada wanita itu.
“ terima kasih maz” jawab wanita itu.
Wanita itu sepertinya masih kesakitan dengan luka yang ada di lutut kananya.
“ sekali lagi terima kasih maz” kata wanita cantik itu.
Wanita berparas cantik, dengan bola mata yang bulat dan hidung yang mancung. Semakin menambah kecantikannya. Tinggi tubuhnya semakin membuat postur tubuhnya indah.
“ sama – sama, namanya juga teman harus saling tolong - menolonglah “ jawabku dengan sedikit senyuman.
‘”teman? “ tanya wanita itu penasaran.
“ iya teman. Kamu Luci kan? “ tanya ku berharap tebakanku benar.
“ Lho ko anda tahu?, memangnya anda siapa?” tanya Luci semakin penasaran.
“ sudahkah kau lupa padaku? “ godaku pada Luci.
“ maaf sepertinya saya tak mengenal anda “. Jawab Luci.
“ OK, kalau begitu mari kita kenalan kembali “. Jawabku dengan senyuman kecil.
“ aku Day, Ahmad Day. Siswa SMP Tunas Bangsa 9 tahun yang lalu, tepatnya di kelas 3D.” Kata ku sambil mengulurkan tangan pada Luci.
Dengan raut wajah yang terkejut  Luci pun berkata, “ ya Ampun Day, kamu Day yang suka terlambat itu kan? “
“ iya” jawabku dengan sedikit kecewa karena yang diucapkan Luci padaku adalah perilaku jelekku.
Memang aku seorang Day yang suka terlambat datang ke sekolah. Tapi jangan salah, aku adalah siswa teladan di sekolahku. Beberapa kali ku menduduki peRinagkat 1 siswa paling teladan se- propinsi di kotaku.
“ oh iya Day, aku harus segera pergi, karena ditunggu oleh anak didikku” kata Luci.
“ oh iya , ta apa Luc” jawab ku dengan segera.
“ ini kartu namaku, semoga kita bisa bertemu kembali” ucap Luci sambil menyerahkan sebuah kartu nama padaku. kemudian Luci meninggalkanku sendirian di tikungan itu. Aku pun segera meninggalkan tikungan itu.
***

Minggu sore pun tiba. Rasanya badan ini lelah sekali setelah seharian berkelana di Pasar Bunga. Sambil melepas lelah di kasur kesayanganku aku mulai merogoh sakuku. Ku ambil kartu nama yang diberikan Luci padaku tadi pagi.
Kartu nama yang cantik seperti orang yang memilikinya.



LUCI INDRASARI
Jln. Mawar no. 9 JakTim
TK Harapan Bunda
Jln. Seta no. 2 JakTim
089756463636

Ternyata Luci seorang guru PAUD juga. sama seperti Almarhumah Rina.
Tak ku sangka, Luci seorang anak Dirut sebuah PT ternama di Indonesia bisa menjadi seorang guru PAUD. Setelah mengetahui alamatnya, aku mempunyai niat untuk mengunjunginya. Nampaknya hati ini punya firasat dengan wanita itu.
Malam pun semakin gelap. Aku pun memulai tidurku menuju dunia mimpi.
***

 Senin pagi pun tiba, kebetulan aku tak ada jam mengajar. Aku berniat mengunjungi Luci yang sejak kemaRina masih teRinagat di kepalaku. Aku pun bergegas untuk mandi kemudian berangkat dengan satriaku.
***

Tepat pukul 10.00 WIB aku sampai di tempat Luci mengajar. Dan akhirnya aku bertemu Luci kembali.
“ hay Luc” sapaku pada Luci.
“ hay Day” jawwab Luci membalas sapaanku.
“ hari ini ada acara kemana?” tanyaku pada Luci.
“ hari ini aku ada rapat yayasan di Jln. Imam bonjol Day”  jawab Luci  dengan yakinnya.
Mendengar perkataan itu aku sedikit kecewa, padahal aku ingin sekali mengajak Luci ke suatu tempat yang pernah jadi kenangan dalam hidupku.
“ ya sudah Luc,ku kira kau tak ada acara” jawabku dengan nada kecewa.
“ maaf Day, mungkin lain kali lagi kita berbincangnya ya, aku sudah ditunggu oleh pihak yayasan” kata Luci sambil meninggalkanku dengan buru – buru.
“iy Luc, hati – hati di jalan”  sahutku membalas ucapan Luci.
Setelah sosok Luci menghilang, aku pun segera meninggalkan sekolah Anak Usia Dini itu.
***


Senin malam selasa , malam itu membuatku teRinagat dengan Rina. Wanita yang sangat ku cintai. Cinta tak harus memiliki lagu ST 12 itu melantun di blackberryku. ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tak ku kenal. XXX30 . no Luci.

‘ Day besok ku tunggu di Taman Cibubur jam 09.00 WIB. Jangan telat ya. @Luci’

Sms itu terasa menusuk hatiku. Mengingatkanku pada Rina, wanita yang sangat ku cintai. Aku tak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Segera ku jawab sms itu ‘ ya, OK Luc’. Sending message dan akhirnya sending ke xxx30.
***

Selasa pagi tiba. indahnya mentari hari ini. membuatku bersemangat. Waktu menunjukkan pukul 08.00 akupun segera berangkat menuju Taman Cibubur dengan satria tercintaku.
***


Tepat pukul 08.45 aku tiba di Taman Cibubur. Aku memarkirkan satriaku, kemudian masuk ke dalam taman. Ku mulai mencari sosok Luci. Luci pun belum ku temukan. Hari ini nampak aneh sekali. Taman yang biasa dibuka untuk umum terasa sepi sekali. Dan anehnya lagi, taman yang indah itu dihias dengan pelaminan dan  tenda ungu . layaknya ada resepsi pernikahan di taman ini.
Sudah lama ku cari sosok Luci, tapi tak ku temukan juga sosok Luci.
Tiba – tiba ada suara petasan ku dengar. Dan muncullah segerombol orang yang pernah ku kenal. Mereka adalah Nisa, Ridwan, Arul, ibunda Rina serta keluarga ku dan keluarga besar Luci.
“ ada acara apa di sini, kok pada kumpul semua?” tanyaku penasaran.
Petasan kedua berbunyi. Aku semakin penasaran.
“ Nis ada apa ini? “ tanyaku semakin penasaran.
Lalu Nisa melangkah maju dan memberikan penjelasan padaku.
“ Dengarkan aku Day!, hari ini 100 hari kepergian Rina. Dulu sebelum meninggal Rina sempat mencurahkan isi hatinya pada Luci. Rina mengatakan semua tentang mu pada Luci. Dan permintaan terahir Rina adalah menyuruh Luci untuk menikah dengan lelaki yang dicintainya. Yaitu kamu Day. Kami juga tak tahu kalau Rina sempat memberikan permintaan ini pada Luci. sebenarnya Luci tak ingin melakukan hal ini, tetapi ternyata takdir berkata lain. Ternyata Tuhan mempertemukan kalian tanpa rencana. Dan Luci pun ternyata jatuh cinta padamu Day. Dia jatuh cinta padamu saat ditolong olehmu. Dan karena Luci mencintaimu, kami ingin memepersatukan kalian dalam satu ikatan suci. Dan juga untuk merealkan permintaan Rina pada Luci. Karena menurut Rina, Lucilah yang cocok untukmu.” Kata Nisa memberiku penjelasan sedetail – detailnya padaku.
Aku pun tercengang mendengar itu semua. Lalu aku mengatakan perasaanku pada Luci yang sebenarnya di hadapan mereka.
“ sebenarnya aku juga mencintai Luci layaknya aku mencintai Rina, karena aku menemukan sosok Rina di dalam wajah Luci.” Jawabku dengan jujur pada mereka yang hadir di pagi yang cerah itu.
“ aku mencintaimu dengan hatiku yang tulus Luc. Aku ingin menikahimu, menjadikanmu pelabuhan terakhirku. aku sangat mencintaimu. Will You Merry me? “ tanya Day pada Luci.
“ Aku juga sangat mencintaimu dengan hati yang tulus Day, I will be your wife”  jawab Luci dengan yakin.
    Gemuruh tepuk tangan terdengar setelah mendengar jawaban Luci. Akhirnya hari itu mereka menikah di hari itu juga. Tepat 100 hari setelah kepergiaan Rina.
‘Rina telah aku penuhi permintaanmu, semoga kau tenang di sana’ gumam Day dalam hati setelah mengikrarkan akad nikah.

THE END


Kamis, 01 Mei 2014

Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang UngguL

Hari Pendidikan Nasional 2014 (Hardiknas) yang jatuh pada Jumat, 2 Mei 2014 bukan hanya sekadar peringatan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Tahun ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mencetuskan tema “Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul”.
Pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya, kita mengenang kelahiran Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Perintis Pendidikan Nasional. Jasa beliau terhadap dunia pendidikan demikian besar. Semasa hidup, Ki Hajar Dewantara senantiasa menggaungkan kebebasan belajar untuk kaum pribumi, hingga pada tahun 1882 tercetuslah ide mendirikan sekolah Taman Siswa.
Perguruan Taman Siswa sendiri merupakan lembaga pendidikan yang membuka kesempatan bagi orang-orang pribumi dari kalangan bawah untuk memperoleh hak pendidikan yang setara dengan para priyayi dan orang Belanda. Dengan demikian, ilmu bukan hanya milik kaum elite, melainkan milik semesta dan bisa dipergunakan untuk semesta pula.
Peringatan Hardiknas hendaknya digunakan sebagai momentum demi memperkokoh kesadaran bangsa tentang pentingnya pendidikan yang bermutu. Ketika seluruh rakyat Indonesia telah sadar akan hal ini, mereka akan bersatu dan berkomitmen penuh untuk membantu terciptanya pendidikan berkualitas yang nantinya memberi faedah demi kemajuan bangsa di masa depan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sendiri telah mencanangkan tema ‘Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul’ untuk Hardiknas tahun ini. Disebutkannya, pencanangan tema ini akan membuat bangsa Indonesia menyadari pendidikan bukan hanya untuk membahas masalah kekinian yang sifatnya teknis. Lebih dari itu, pendidikan digunakan sebagai sarana ‘memanusiakan manusia demi membangun peradaban bangsa yang unggul.