3 Days
Sepercik
cahaya menyinari satria yang setelah selesai ku cuci. Pagi itu angin berhembus
sepoi – sepoi menggerakkan dedaunan di depan rumahku. Membuat jum’at pagi ini
semakin mempesona. Seperti biasa aku dengan celana kain, kemeja, sepatu
fantofel, serta seuntai jam tangan di tanganku. Siap beraksi menuju medan area.
Selangkah sebelum aku menaiki satriaku,
tiba – tiba aku teringat sesuatu. Aku teringat undangan perkawinan dari
temanku. Nisa dan Ridwan. Nisa teman dekatku, kini dia akan bersanding dengan Ridwan
yang juga temanku seperjuanganku. Beberapa menit kemudian aku terbangun dari
lamunanku, dan aku segera berangkat ke medan area tempat aku mengajarkan ilmu –
ilmu yang ku miliki pada mahasiswaku.
***
Tak
terasa jam berjalan begitu cepatnya hingga jum’at malam sabtu pun tiba. Lagi –
lagi aku harus berjuang melawan rasa lelah demi temanku Nisa. Jum’at malam ini
adalah acara resepsi pernikahan Nisa dan Ridwan. Yang sebelumnya telah
melakukan akad nikah pada jum’at pagi. Dengan semangat ’45 aku berangkat ke
tempat pernikahan Nisa bersama satria yang selalu setia padaku. Tiba di tempat
resepsi, aku segera memarkirkan satria kesayanganku. Ternyata resepsi perniahan
Nisa di gelar di sebuah lapangan seluas samudra dengan tenda berwarna
Ungu. Sungguh terkesan megah dan mewah
bagai pernikahan putri raja. Dengan hati yang tenang aku mulai memasuki pintu
utama menuju pelaminan Nisa dan Ridwan. Dari depan pintu itu ku lihat Nisa
begitu cantik sekali, bagai seorang bidadari. Saat matanya yang indah menatap
tajam padaku seakan mempersilahkan aku memasuki istananya. Di samping Nisa ada Ridwan yang juga menatap
ke arahku dengan tatapan bahagia. Aku tersenyum lebar ke arah dua sejoli itu.
Ingin rasanya aku cepat sampai di depan mereka. Tapi sayang, aku harus melewati
sebuah antrian panjang untuk menuju pelaminan Nisa dan Ridwan. Semangatku semakin menggebu – gebu untuk
cepat bertemu dengan mereka. Perlahan kaki ku langkahkan melewati sebuah karpet
merah. Ku telusuri karpet merah itu
hingga sampailah pada suatu tangga. Tangga itu memiliki 5 buah anak tangga.
Mulailah kaki ku pijakkan pada tangga itu. Tetapi saat kakiku memijak anak
tangga ke- 3, tiba –tiba tubuhku tak bisa digerakkan. Jantungku berdegup kencang.
Dag – dig – dug dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya ku sadari bahwa tubuhku
menopang seorang wanita cantik jelita, bibirnya merah merona, pipinya indah dengan dua lesung pipi yang
membuat kecantikannya semakin terpancar.
Aku tak bisa berbuat apa – apa melihat gadis di depan mataku ini. Ingin
rasanya aku memilikinya, menjadikan dia wanita yang yang akan ku temani seumur
hidupku.
“makasih
mas”, sahut wanita itu. Aku pun terkejut mendengar suara itu. Suara yang indah bagai alunan melodi. Aku pun segera
menjawab perkataan wanita itu.
“ oh, iya sama – sama”, jawabku dengan
senyuman terinadah. Sejenak wanita itu bergumam, ternyata high heelsnya patah
satu, Ingin rasanya aku menolong dan
berlama – lama dengan wanita ini, tapi aku sadar, aku memiliki tujuan utama
yang lebih penting dari ini. Aku harus
cepat sampai di pelaminan Nisa dan Ridwan, karena mereka telah menugguku
terlalu lama. Segera ku tinggalkan wanita itu menuju pelaminan Nisa dan Ridwan.
Dan akhirnya sampai juga aku di hadapan kedua temanku ini. Aku bersalaman memberi selamat pada Nisa.
Teman yang selama ini terlalu baik padaku. Aku juga menyalami dan memeluk Ridwan
yang juga teman seperjuanganku.
“sini Day! Aku akan memperkenalkanmu pada sepupuku.”kata Nisa.
“ oya..., siapan Nis?”
jawab ku dengan rasa penasaran.
“ ini kenalkan sepupuku Rina,
Rina Finicia Putri lengkapnya” kata Nisa sambil memperkenalkan seorang wanita
cantik padaku.
Aku pun terkejut melihat
wanita yang dikenalkan Nisa padaku. Wanita itu adalah wanita yang ku tolong
beberapa menit yang lalu.
“ hai, aku Rina” ucap
wanita itu dengan menyodorkan tangannya padaku untuk bersalaman.
Aku pun segera menjabat
tangan Rina, “Aku Day”, jawabku dengan singkat.
Akhirnya aku dan Rina pun
kini sudah saling mengenal. Kita berfoto bersama di atas pelaminan Nisa dan Ridwan.
Setelah aku selesai berfoto dengan sahabatku, aku menuju tempat perjamuan. Aku
ingin mengisi perutku yang sejak sore tadi sudah keroncongan. Setelah tiba di
tempat perjamuan itu, tiba – tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Dan
ternyata orang itu adalah Rina, wanita yang parasnya cantik jelita. Semakin ku
memandang wanita ini, semakin besar keinginanku untuk memilikinya.
“ hai Day”, sapa Rina
padaku.
“ iya Rina, ada apa?”
jawabku dengan lembut.
“ kamu ingin makan?” tanya
Rina padaku.
“ oh tidak, aku sudah
kenyang kok ”, jawabku dengan sedikit berbohong.
“ aku kira kamu ingin
makan dulu” kata Rina.
“ tidak, aku ingin segera
pulang Rina, rasanya badanku membutuhkan istirahat ” jawabku.
“ aku pulang dulu ya Rina,
sampai jumpa di hari esok “ kataku sambil meninggalkan Rina.
Aku pun segera keluar dari
lapangan tempat resepsi Nisa dan Ridwan. Aku segera mengambil satria
kesayanganku. Aku segera menghidupkan mesin motorku kemudian berjalan perlahan.
Di pinggir jalan tepat di depan lapangan
tempat resepsi pernikahan Nisa dan Ridwan ada sesosok wanita yang cantik sedang
berdiri di sana. Ku hampiri wanita itu.
“ hai Rina, mau pulang?
Tanya ku dengan harapan Rina mau pulang bersamaku.
“ iya Day, aku ingin
pulang” jawab Rina dengan senyuman maNisnya.
“ rumah kamu di mana?”
tanyaku pada Rina
“aku di Cilandak Day”,
jawab Rina.
“oh kebetulan kita searah,
mau ikut denganku?” tanyaku memberi tawaran.
“ aku sudah di jemput Day”
jawab Rina dengan pelan.
Mendengar jawaban itu
hatiku sedikit goyah, tapi tak mengapa, aku ingin menunjukkan jiwa ksatria pada
perempuan cantik ini.
“kalau begitu aku temani
menunggu jemputanmu ya?” tawarku pada Rina.
“ boleh aja, asal kamu tak
keberatan” jawab Rina.
“ ah tak apa” jawabku
dengan senyum lebar.
Di tengah canda kami tiba
– tiba datang sebuah mobil mewah dan berhenti tepat di depan kami.
Kemudian keluarlah sesosok
lelaki yang gagah keluar dari mobil itu dengan membawa ipad di tangan kiri dan
blackberry di tangan kanan.
“ kenalkan ini Arul,
tunanganku Day” kata Rina menyuruhku berkenalan.
“Arul ” kata lelaki itu
dengan menyodorkan tangan mengajakku berkenalan.
“ Day” jawabku dengan
tegas.
“ kami pulang dulu ya Day”
kata Rina
“oh iy, hati – hati”
jawabku pada Rina.
Rina dan Arul pun
meninggalkan aku dengan mobil mewah itu. Akhirnya ku putuskan untuk
meninggalkan tempat pertemuan kami itu.
***
Wajah
cantik itu selalu terbayang dipikiranku, ingin rasanya aku memiliki wanita itu.
Tapi sayang, wanita berparas cantik itu sudah menjadi milik orang lain.
Sambil melamun di kasur
warisan emakku aku mengingat – ingat kejadian yang terjadi saat bertemu dengan Rina
tadi. Tiba – tiba lagu ST 12 “cinta tak harus memiliki” berbunyi dari
blackberryku. Ternyata ada sebuah sms. Aku pun segera membukanya. Dari sebuah
nomor yang tak ku kenal, xxx029. lalu ku baca pesan yang masuk.
‘besuk aku ingin bertemu dengan mu Day, di Taman
Cibubur jam 09.00 WIB. Ku tunggu kedatanganmu’
@Rina
Aku kaget sekali melihat
pesan baru itu. Sebenarnya ada apa, apa yang diinginkan Rina sehingga dia
mengajakku bertemu. Entah apa itu semuanya akan terjawab besok.
***
Waktu pun
sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB aku pun segera mandi, berdandan serapi
mungkin. Dan tepat pukul 08.00 WIB aku berangkat menuju Taman Cibubur. Tepat
jam 08.45 WIB aku sampai di taman itu. Ku cari sosok Rina, tapi tak ku temukan
juga. Waktu pun menunjukkan pukul 09.00 WIB tepat pada waktu yang dijanjikan Rina
padaku. Tetapi, sosok Rina tak datang juga. Aku pun masih setia menunggu Rina.
Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 09.45 WIB. Sosok Rina tak ku temukan
juga. Dan pada akhirnya pada pukul 10.00 WIB Rina belum datang juga. Akhirnya
ku putuskan untuk meninggalkan taman itu. Saat di gerbang depan taman itu tiba
tiba seorang wanita memanggil namaku.
“ Day “ teriaknya dengan
keras. Ternyata wanita itu Rina.
“ maaf aku terlambat Day”
ucap Rina dengan nafas terengah – engah.
“ ini untukmu Day” kata Rina
sambil memberiku sepucuk kertas biru berisi sebuah tulisan.
“ aku pergi dulu ya Day,
soalnya aku ada kelas PAUD” kata Rina
sambil meninggalkanku.
Aku pun hanya bisa terdiam
dan bingung dengan hal yang terjadi baru saja. Aku tak mengerti apa maksud Rina
dengan mengajakku bertemu di taman kemudian dia meninggalkanku begitu saja. Aku
pun penasaran dengan kertas yang diberikan Rina padaku. Segera ku baca surat
itu.
‘ datanglah ke rumah Nisa
ba’da magrib’
Aku semakin tak mengerti
maksud Rina. Aku pun segera mengirim sms pada Nisa dan menanyakan sebenarnya
ada acara apa di rumahnya. Ternyata sabtu malam minggu itu adalah hari
pernikahan Rina dan Arul. Aku kaget sekali mengetahui berita itu. Hati ini
berasa hancur berkeping – keping, seakan tak kuat mendengar berita ini. Aku pun
segera meninggalkan taman itu dengan perasaan yang tak karuan.
***
Sabtu
malam minggu pun tiba. aku teringat dengan undangan Rina. Tapi rasanya aku tak
kuat melihat wanita itu menikah dengan orang lain. Aku pun memutuskan untuk
tidak datang ke tempat Nisa. aku memilih untuk menenangkan diri di kasur empuk
warisan emakku.
***
Minggu
dini hari tepatnya pukul 02.30 WIB seperti biasa aku melaksanakan ibadah sholat
tahajud. Setelah selesai sholat, lagu ST 12 melantun dari blackberryku. Aku pun
segera membuka pesan baru itu. ternyata dari xxx029.
’ mengapa kau tak datang ke rumah Nisa?’
aku pun hanya membaca sms
itu tanpa membalasnya.
***
Pagi pun tiba, mentari menyinari dunia ini
dengan keindahan cahayanya. Seperti biasa aku melakukan aktivitas rutin ku. Aku
bersiap – siap untuk menuju tempat mengajarku. Sebelum berangkat aku memanasi
satriaku terlebih dahulu. Belum sempat aku selesai memanasi motorku, tiba –
tiba datang Nisa dengan motor beatnya, kemudian berhenti di depanku.
“ Day, ayo ikut ke rumahku
sebentar” kata Nisa dengan tegasnya.
“ ada apa Nis, ko buru –
buru sekali? “ jawabku penasaran.
“ sudahlah ayo ikut
denganku!” perintah Nisa kepadaku sambil menarikku agar membonceng dia.
Aku pun menurut saja
dengan kata – kata Nisa. aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku semakin bingung
dengan keadaan ini. Sebenarnya apa yang terjadi?
***
Setelah
sampai di rumah Nisa, ku lihat pelaminan yang masih tertata dengan indah. Pasti
itu pelaminan Rina dan Arul tadi malam.tebakku dalam hati.
“ ayo Day ikut aku!” peRinatah
Nisa pada ku. Aku pun menurut saja dengan kata – kata Nisa.
Kemudian sampailah aku
pada sebuah kamar. Di kamar itu ada wanita cantik. Wanita yang ingin sekali ku
miliki. Wanita yang menjadi pujaan hatiku.
Wanita itu terbaring
dengan kecantikan yang masih lengkap diwajahnya. Ingin sekali ku kecup
keningnya untuk yang terakhir kali. Tapi sayang aku tak bisa melakukan itu.
“ Ini bacalah Day” kata
seorang ibu sambil menyodorkan sebuah kertas padaku.
Aku segera membaca isi
kertas itu.
‘ Aku ingin Day
mengimamiku untuk yang terakhir kalinya’
Rasanya sesak sekali dada
ini. aku tak mengharapkan hal ini terjadi.
Tetapi ini adalah sebuah
kenyataan. Aku harus melaksanakan isi surat itu.
Dengan hati yang tenang
aku segera menyolatkan jenazah Rina.
Setelah itu aku pun ikut
mengatarkan dia ke tempat keabadiaannya.
Kini aku tak bisa melihat
sosok wanita cantik itu kembali. Ku pandangi Nisan yang bertuliskan ‘Rina
Finicia Putri’. Aku teringat kenangan 3 hari 2 malam. Aku mengenang wanita
cantik ini. aku teringat saat berkenalan dengan wanita ini. saat nafas Rina
terengah – engah menemuiku di taman itu. Saat Rina mengirim sms padaku. Dan
akhirnya aku pun harus melupakan semua itu.
3 hari 2 malam yang
memberi misteri padaku.
100 Days
40 hari
setelah kepergian Rina, aku pun berkelana mencari sesosok wanita yang bisa
mengobati hati yang sepi ini. perlahan ku langkahkan kaki ini. hari itu hari minggu.
Aku mengunjungi suatu tempat yang agak
jauh dari kontrakanku. Tepatnya
di km 97. tempat itu bernama Pasar Bunga. Pasar Bunga diadakan tiap seminggu
sekali, dan adanya di minggu pagi. Aku
pun memulai perjalananku dengan satria yang selalu setia padaku.
Pagi itu aku mengendarai
motorku dengan santai sambil menghirup udara segar di pagi hari. Tibalah aku di
suatu jalan yang penuh tikungan. Di suatu jalan yang bertikung tajam ku lihat
ada seorang wanita yang terjatuh dari motornya. Aku pun menghentikan motorku
dan menghampiri wanita itu. Sepertinya aku kenal dengan sosok wanita itu. Ku
coba mengingat, tetapi tak ingat juga. Ku coba mendekati wanita itu. Setelah
dekat dengan wanita itu, akhirnya aku ingat dengan wanita itu. Sepertinya dia
Luci. Ya Luciana Indrasari. Teman SMP ku
dulu. Aku segera menolong wanita itu bangun dari tempat dia jatuh. Wanita itu bingung menatapku.
“ hay” sapaku pada wanita
itu.
“ terima kasih maz” jawab
wanita itu.
Wanita itu sepertinya
masih kesakitan dengan luka yang ada di lutut kananya.
“ sekali lagi terima kasih
maz” kata wanita cantik itu.
Wanita berparas cantik,
dengan bola mata yang bulat dan hidung yang mancung. Semakin menambah
kecantikannya. Tinggi tubuhnya semakin membuat postur tubuhnya indah.
“ sama – sama, namanya
juga teman harus saling tolong - menolonglah “ jawabku dengan sedikit senyuman.
‘”teman? “ tanya wanita
itu penasaran.
“ iya teman. Kamu Luci
kan? “ tanya ku berharap tebakanku benar.
“ Lho ko anda tahu?,
memangnya anda siapa?” tanya Luci semakin penasaran.
“ sudahkah kau lupa
padaku? “ godaku pada Luci.
“ maaf sepertinya saya tak
mengenal anda “. Jawab Luci.
“ OK, kalau begitu mari
kita kenalan kembali “. Jawabku dengan senyuman kecil.
“ aku Day, Ahmad Day.
Siswa SMP Tunas Bangsa 9 tahun yang lalu, tepatnya di kelas 3D.” Kata ku sambil
mengulurkan tangan pada Luci.
Dengan raut wajah yang
terkejut Luci pun berkata, “ ya Ampun Day,
kamu Day yang suka terlambat itu kan? “
“ iya” jawabku dengan
sedikit kecewa karena yang diucapkan Luci padaku adalah perilaku jelekku.
Memang aku seorang Day
yang suka terlambat datang ke sekolah. Tapi jangan salah, aku adalah siswa
teladan di sekolahku. Beberapa kali ku menduduki peRinagkat 1 siswa paling
teladan se- propinsi di kotaku.
“ oh iya Day, aku harus
segera pergi, karena ditunggu oleh anak didikku” kata Luci.
“ oh iya , ta apa Luc”
jawab ku dengan segera.
“ ini kartu namaku, semoga
kita bisa bertemu kembali” ucap Luci sambil menyerahkan sebuah kartu nama
padaku. kemudian Luci meninggalkanku sendirian di tikungan itu. Aku pun segera
meninggalkan tikungan itu.
***
Minggu
sore pun tiba. Rasanya badan ini lelah sekali setelah seharian berkelana di
Pasar Bunga. Sambil melepas lelah di kasur kesayanganku aku mulai merogoh
sakuku. Ku ambil kartu nama yang diberikan Luci padaku tadi pagi.
Kartu nama yang cantik
seperti orang yang memilikinya.
LUCI
INDRASARI
Jln. Mawar no. 9 JakTim
TK Harapan Bunda
Jln. Seta no. 2 JakTim
089756463636
Ternyata Luci seorang guru
PAUD juga. sama seperti Almarhumah Rina.
Tak ku sangka, Luci
seorang anak Dirut sebuah PT ternama di Indonesia bisa menjadi seorang guru
PAUD. Setelah mengetahui alamatnya, aku mempunyai niat untuk mengunjunginya.
Nampaknya hati ini punya firasat dengan wanita itu.
Malam pun semakin gelap.
Aku pun memulai tidurku menuju dunia mimpi.
***
Senin pagi pun tiba, kebetulan aku tak ada jam
mengajar. Aku berniat mengunjungi Luci yang sejak kemaRina masih teRinagat di
kepalaku. Aku pun bergegas untuk mandi kemudian berangkat dengan satriaku.
***
Tepat
pukul 10.00 WIB aku sampai di tempat Luci mengajar. Dan akhirnya aku bertemu
Luci kembali.
“ hay Luc” sapaku pada
Luci.
“ hay Day” jawwab Luci
membalas sapaanku.
“ hari ini ada acara
kemana?” tanyaku pada Luci.
“ hari ini aku ada rapat
yayasan di Jln. Imam bonjol Day” jawab
Luci dengan yakinnya.
Mendengar perkataan itu
aku sedikit kecewa, padahal aku ingin sekali mengajak Luci ke suatu tempat yang
pernah jadi kenangan dalam hidupku.
“ ya sudah Luc,ku kira kau
tak ada acara” jawabku dengan nada kecewa.
“ maaf Day, mungkin lain
kali lagi kita berbincangnya ya, aku sudah ditunggu oleh pihak yayasan” kata
Luci sambil meninggalkanku dengan buru – buru.
“iy Luc, hati – hati di
jalan” sahutku membalas ucapan Luci.
Setelah sosok Luci
menghilang, aku pun segera meninggalkan sekolah Anak Usia Dini itu.
***
Senin
malam selasa , malam itu membuatku teRinagat dengan Rina. Wanita yang sangat ku
cintai. Cinta tak harus memiliki lagu ST 12 itu melantun di blackberryku. ada
sebuah pesan masuk dari nomor yang tak ku kenal. XXX30 . no Luci.
‘ Day besok ku tunggu di
Taman Cibubur jam 09.00 WIB. Jangan telat ya. @Luci’
Sms itu terasa menusuk
hatiku. Mengingatkanku pada Rina, wanita yang sangat ku cintai. Aku tak tahu
apa yang akan terjadi esok hari. Segera ku jawab sms itu ‘ ya, OK Luc’. Sending
message dan akhirnya sending ke xxx30.
***
Selasa
pagi tiba. indahnya mentari hari ini. membuatku bersemangat. Waktu menunjukkan
pukul 08.00 akupun segera berangkat menuju Taman Cibubur dengan satria
tercintaku.
***
Tepat
pukul 08.45 aku tiba di Taman Cibubur. Aku memarkirkan satriaku, kemudian masuk
ke dalam taman. Ku mulai mencari sosok Luci. Luci pun belum ku temukan. Hari
ini nampak aneh sekali. Taman yang biasa dibuka untuk umum terasa sepi sekali.
Dan anehnya lagi, taman yang indah itu dihias dengan pelaminan dan tenda ungu . layaknya ada resepsi pernikahan
di taman ini.
Sudah lama ku cari sosok
Luci, tapi tak ku temukan juga sosok Luci.
Tiba – tiba ada suara
petasan ku dengar. Dan muncullah segerombol orang yang pernah ku kenal. Mereka
adalah Nisa, Ridwan, Arul, ibunda Rina serta keluarga ku dan keluarga besar
Luci.
“ ada acara apa di sini,
kok pada kumpul semua?” tanyaku penasaran.
Petasan kedua berbunyi.
Aku semakin penasaran.
“ Nis ada apa ini? “
tanyaku semakin penasaran.
Lalu Nisa melangkah maju
dan memberikan penjelasan padaku.
“ Dengarkan aku Day!, hari
ini 100 hari kepergian Rina. Dulu sebelum meninggal Rina sempat mencurahkan isi
hatinya pada Luci. Rina mengatakan semua tentang mu pada Luci. Dan permintaan
terahir Rina adalah menyuruh Luci untuk menikah dengan lelaki yang dicintainya.
Yaitu kamu Day. Kami juga tak tahu kalau Rina sempat memberikan permintaan ini
pada Luci. sebenarnya Luci tak ingin melakukan hal ini, tetapi ternyata takdir
berkata lain. Ternyata Tuhan mempertemukan kalian tanpa rencana. Dan Luci pun
ternyata jatuh cinta padamu Day. Dia jatuh cinta padamu saat ditolong olehmu.
Dan karena Luci mencintaimu, kami ingin memepersatukan kalian dalam satu ikatan
suci. Dan juga untuk merealkan permintaan Rina pada Luci. Karena menurut Rina,
Lucilah yang cocok untukmu.” Kata Nisa memberiku penjelasan sedetail –
detailnya padaku.
Aku pun tercengang
mendengar itu semua. Lalu aku mengatakan perasaanku pada Luci yang sebenarnya
di hadapan mereka.
“ sebenarnya aku juga
mencintai Luci layaknya aku mencintai Rina, karena aku menemukan sosok Rina di
dalam wajah Luci.” Jawabku dengan jujur pada mereka yang hadir di pagi yang
cerah itu.
“ aku mencintaimu dengan
hatiku yang tulus Luc. Aku ingin menikahimu, menjadikanmu pelabuhan terakhirku.
aku sangat mencintaimu. Will You Merry me? “ tanya Day pada Luci.
“ Aku juga sangat
mencintaimu dengan hati yang tulus Day, I will be your wife” jawab Luci dengan yakin.
Gemuruh tepuk tangan terdengar setelah
mendengar jawaban Luci. Akhirnya hari itu mereka menikah di hari itu juga.
Tepat 100 hari setelah kepergiaan Rina.
‘Rina telah aku penuhi permintaanmu,
semoga kau tenang di sana’ gumam Day dalam hati setelah mengikrarkan akad
nikah.
THE END