Minggu, 11 Mei 2014

100 Days




3 Days
Sepercik cahaya menyinari satria yang setelah selesai ku cuci. Pagi itu angin berhembus sepoi – sepoi menggerakkan dedaunan di depan rumahku. Membuat jum’at pagi ini semakin mempesona. Seperti biasa aku dengan celana kain, kemeja, sepatu fantofel, serta seuntai jam tangan di tanganku. Siap beraksi menuju medan area. Selangkah sebelum aku menaiki satriaku,  tiba – tiba aku teringat sesuatu. Aku teringat undangan perkawinan dari temanku. Nisa dan Ridwan. Nisa teman dekatku, kini dia akan bersanding dengan Ridwan yang juga temanku seperjuanganku. Beberapa menit kemudian aku terbangun dari lamunanku, dan aku segera berangkat ke medan area tempat aku mengajarkan ilmu – ilmu yang  ku miliki pada mahasiswaku.

***

Tak terasa jam berjalan begitu cepatnya hingga jum’at malam sabtu pun tiba. Lagi – lagi aku harus berjuang melawan rasa lelah demi temanku Nisa. Jum’at malam ini adalah acara resepsi pernikahan Nisa dan Ridwan. Yang sebelumnya telah melakukan akad nikah pada jum’at pagi. Dengan semangat ’45 aku berangkat ke tempat pernikahan Nisa bersama satria yang selalu setia padaku. Tiba di tempat resepsi, aku segera memarkirkan satria kesayanganku. Ternyata resepsi perniahan Nisa di gelar di sebuah lapangan seluas samudra dengan tenda berwarna Ungu.  Sungguh terkesan megah dan mewah bagai pernikahan putri raja. Dengan hati yang tenang aku mulai memasuki pintu utama menuju pelaminan Nisa dan Ridwan. Dari depan pintu itu ku lihat Nisa begitu cantik sekali, bagai seorang bidadari. Saat matanya yang indah menatap tajam padaku seakan mempersilahkan aku memasuki istananya.  Di samping Nisa ada Ridwan yang juga menatap ke arahku dengan tatapan bahagia. Aku tersenyum lebar ke arah dua sejoli itu. Ingin rasanya aku cepat sampai di depan mereka. Tapi sayang, aku harus melewati sebuah antrian panjang untuk menuju pelaminan Nisa dan Ridwan.  Semangatku semakin menggebu – gebu untuk cepat bertemu dengan mereka. Perlahan kaki ku langkahkan melewati sebuah karpet merah.  Ku telusuri karpet merah itu hingga sampailah pada suatu tangga. Tangga itu memiliki 5 buah anak tangga. Mulailah kaki ku pijakkan pada tangga itu. Tetapi saat kakiku memijak anak tangga ke- 3, tiba –tiba tubuhku tak bisa digerakkan. Jantungku berdegup kencang. Dag – dig – dug dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya ku sadari bahwa tubuhku menopang seorang wanita cantik jelita, bibirnya merah merona,  pipinya indah dengan dua lesung pipi yang membuat kecantikannya semakin terpancar.  Aku tak bisa berbuat apa – apa melihat gadis di depan mataku ini. Ingin rasanya aku memilikinya, menjadikan dia wanita yang yang akan ku temani seumur hidupku.
“makasih mas”, sahut wanita itu. Aku pun terkejut mendengar suara itu. Suara  yang indah bagai alunan melodi. Aku pun segera menjawab perkataan wanita itu.
 “ oh, iya sama – sama”, jawabku dengan senyuman terinadah. Sejenak wanita itu bergumam, ternyata high heelsnya patah satu, Ingin rasanya aku menolong  dan berlama – lama dengan wanita ini, tapi aku sadar, aku memiliki tujuan utama yang lebih penting dari ini.  Aku harus cepat sampai di pelaminan Nisa dan Ridwan, karena mereka telah menugguku terlalu lama. Segera ku tinggalkan wanita itu menuju pelaminan Nisa dan Ridwan. Dan akhirnya sampai juga aku di hadapan kedua temanku ini.  Aku bersalaman memberi selamat pada Nisa. Teman yang selama ini terlalu baik padaku. Aku juga menyalami dan memeluk Ridwan yang juga teman seperjuanganku.
 “sini Day! Aku akan memperkenalkanmu  pada sepupuku.”kata Nisa.
“ oya..., siapan Nis?” jawab ku dengan rasa penasaran.
“ ini kenalkan sepupuku Rina, Rina Finicia Putri lengkapnya” kata Nisa sambil memperkenalkan seorang wanita cantik padaku.
Aku pun terkejut melihat wanita yang dikenalkan Nisa padaku. Wanita itu adalah wanita yang ku tolong beberapa menit yang lalu.
“ hai, aku Rina” ucap wanita itu dengan menyodorkan tangannya padaku untuk bersalaman.
Aku pun segera menjabat tangan Rina, “Aku Day”, jawabku dengan singkat.
Akhirnya aku dan Rina pun kini sudah saling mengenal. Kita berfoto bersama di atas pelaminan Nisa dan Ridwan. Setelah aku selesai berfoto dengan sahabatku, aku menuju tempat perjamuan. Aku ingin mengisi perutku yang sejak sore tadi sudah keroncongan. Setelah tiba di tempat perjamuan itu, tiba – tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Dan ternyata orang itu adalah Rina, wanita yang parasnya cantik jelita. Semakin ku memandang wanita ini, semakin besar keinginanku untuk memilikinya.
“ hai Day”, sapa Rina padaku.
“ iya Rina, ada apa?” jawabku dengan lembut.
“ kamu ingin makan?” tanya Rina padaku.
“ oh tidak, aku sudah kenyang kok ”, jawabku dengan sedikit berbohong.
“ aku kira kamu ingin makan dulu” kata Rina.
“ tidak, aku ingin segera pulang Rina, rasanya badanku membutuhkan istirahat ” jawabku.
“ aku pulang dulu ya Rina, sampai jumpa di hari esok “ kataku sambil meninggalkan Rina.
Aku pun segera keluar dari lapangan tempat resepsi Nisa dan Ridwan. Aku segera mengambil satria kesayanganku. Aku segera menghidupkan mesin motorku kemudian berjalan perlahan. Di pinggir jalan tepat di  depan lapangan tempat resepsi pernikahan Nisa dan Ridwan ada sesosok wanita yang cantik sedang berdiri di sana. Ku hampiri wanita itu.
“ hai Rina, mau pulang? Tanya ku dengan harapan Rina mau pulang bersamaku.
“ iya Day, aku ingin pulang” jawab Rina dengan senyuman maNisnya.
“ rumah kamu di mana?” tanyaku pada Rina
“aku di Cilandak Day”, jawab Rina.
“oh kebetulan kita searah, mau ikut denganku?” tanyaku memberi tawaran.
“ aku sudah di jemput Day” jawab Rina dengan pelan.
Mendengar jawaban itu hatiku sedikit goyah, tapi tak mengapa, aku ingin menunjukkan jiwa ksatria pada perempuan cantik ini.
“kalau begitu aku temani menunggu jemputanmu ya?” tawarku pada Rina.
“ boleh aja, asal kamu tak keberatan” jawab Rina.
“ ah tak apa” jawabku dengan senyum lebar.
Di tengah canda kami tiba – tiba datang sebuah mobil mewah dan berhenti tepat di depan kami.
Kemudian keluarlah sesosok lelaki yang gagah keluar dari mobil itu dengan membawa ipad di tangan kiri dan blackberry di tangan kanan.
“ kenalkan ini Arul, tunanganku Day” kata Rina menyuruhku berkenalan.
“Arul ” kata lelaki itu dengan menyodorkan tangan mengajakku berkenalan.
“ Day” jawabku dengan tegas.
“ kami pulang dulu ya Day” kata Rina
“oh iy, hati – hati” jawabku pada Rina.
Rina dan Arul pun meninggalkan aku dengan mobil mewah itu. Akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan tempat pertemuan kami itu.
***

Wajah cantik itu selalu terbayang dipikiranku, ingin rasanya aku memiliki wanita itu. Tapi sayang, wanita berparas cantik itu sudah menjadi milik orang lain.
Sambil melamun di kasur warisan emakku aku mengingat – ingat kejadian yang terjadi saat bertemu dengan Rina tadi. Tiba – tiba lagu ST 12 “cinta tak harus memiliki” berbunyi dari blackberryku. Ternyata ada sebuah sms. Aku pun segera membukanya. Dari sebuah nomor yang tak ku kenal, xxx029. lalu ku baca pesan yang masuk.

 ‘besuk aku ingin bertemu dengan mu Day, di Taman Cibubur jam 09.00 WIB. Ku tunggu kedatanganmu’
@Rina

Aku kaget sekali melihat pesan baru itu. Sebenarnya ada apa, apa yang diinginkan Rina sehingga dia mengajakku bertemu. Entah apa itu semuanya akan terjawab besok.
***


Waktu pun sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB aku pun segera mandi, berdandan serapi mungkin. Dan tepat pukul 08.00 WIB aku berangkat menuju Taman Cibubur. Tepat jam 08.45 WIB aku sampai di taman itu. Ku cari sosok Rina, tapi tak ku temukan juga. Waktu pun menunjukkan pukul 09.00 WIB tepat pada waktu yang dijanjikan Rina padaku. Tetapi, sosok Rina tak datang juga. Aku pun masih setia menunggu Rina. Hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 09.45 WIB. Sosok Rina tak ku temukan juga. Dan pada akhirnya pada pukul 10.00 WIB Rina belum datang juga. Akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan taman itu. Saat di gerbang depan taman itu tiba tiba seorang wanita memanggil namaku.
“ Day “ teriaknya dengan keras. Ternyata wanita itu Rina.
“ maaf aku terlambat Day” ucap Rina dengan nafas terengah – engah.
“ ini untukmu Day” kata Rina sambil memberiku sepucuk kertas biru berisi sebuah tulisan.
“ aku pergi dulu ya Day, soalnya aku ada kelas PAUD”  kata Rina sambil meninggalkanku.
Aku pun hanya bisa terdiam dan bingung dengan hal yang terjadi baru saja. Aku tak mengerti apa maksud Rina dengan mengajakku bertemu di taman kemudian dia meninggalkanku begitu saja. Aku pun penasaran dengan kertas yang diberikan Rina padaku. Segera ku baca surat itu.

‘ datanglah ke rumah Nisa ba’da magrib’

Aku semakin tak mengerti maksud Rina. Aku pun segera mengirim sms pada Nisa dan menanyakan sebenarnya ada acara apa di rumahnya. Ternyata sabtu malam minggu itu adalah hari pernikahan Rina dan Arul. Aku kaget sekali mengetahui berita itu. Hati ini berasa hancur berkeping – keping, seakan tak kuat mendengar berita ini. Aku pun segera meninggalkan taman itu dengan perasaan yang tak karuan.
***

Sabtu malam minggu pun tiba. aku teringat dengan undangan Rina. Tapi rasanya aku tak kuat melihat wanita itu menikah dengan orang lain. Aku pun memutuskan untuk tidak datang ke tempat Nisa. aku memilih untuk menenangkan diri di kasur empuk warisan emakku.
***

Minggu dini hari tepatnya pukul 02.30 WIB seperti biasa aku melaksanakan ibadah sholat tahajud. Setelah selesai sholat, lagu ST 12 melantun dari blackberryku. Aku pun segera membuka pesan baru itu. ternyata dari xxx029.
 ’ mengapa kau tak datang ke rumah Nisa?’
aku pun hanya membaca sms itu tanpa membalasnya.

***

 Pagi pun tiba, mentari menyinari dunia ini dengan keindahan cahayanya. Seperti biasa aku melakukan aktivitas rutin ku. Aku bersiap – siap untuk menuju tempat mengajarku. Sebelum berangkat aku memanasi satriaku terlebih dahulu. Belum sempat aku selesai memanasi motorku, tiba – tiba datang Nisa dengan motor beatnya, kemudian berhenti di depanku.
“ Day, ayo ikut ke rumahku sebentar” kata Nisa dengan tegasnya.
“ ada apa Nis, ko buru – buru sekali? “ jawabku penasaran.
“ sudahlah ayo ikut denganku!” perintah Nisa kepadaku sambil menarikku agar membonceng dia.
Aku pun menurut saja dengan kata – kata Nisa. aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku semakin bingung dengan keadaan ini. Sebenarnya apa yang terjadi?
***

Setelah sampai di rumah Nisa, ku lihat pelaminan yang masih tertata dengan indah. Pasti itu pelaminan Rina dan Arul tadi malam.tebakku dalam hati.
“ ayo Day ikut aku!” peRinatah Nisa pada ku. Aku pun menurut saja dengan kata – kata Nisa.
Kemudian sampailah aku pada sebuah kamar. Di kamar itu ada wanita cantik. Wanita yang ingin sekali ku miliki. Wanita yang menjadi pujaan hatiku.
Wanita itu terbaring dengan kecantikan yang masih lengkap diwajahnya. Ingin sekali ku kecup keningnya untuk yang terakhir kali. Tapi sayang aku tak bisa melakukan itu.
“ Ini bacalah Day” kata seorang ibu sambil menyodorkan sebuah kertas padaku.
Aku segera membaca isi kertas itu.
‘ Aku ingin Day mengimamiku untuk yang terakhir kalinya’
Rasanya sesak sekali dada ini. aku tak mengharapkan hal ini terjadi.
Tetapi ini adalah sebuah kenyataan. Aku harus melaksanakan isi surat itu.
Dengan hati yang tenang aku segera menyolatkan jenazah Rina.
Setelah itu aku pun ikut mengatarkan dia ke tempat keabadiaannya.
Kini aku tak bisa melihat sosok wanita cantik itu kembali. Ku pandangi Nisan yang bertuliskan ‘Rina Finicia Putri’. Aku teringat kenangan 3 hari 2 malam. Aku mengenang wanita cantik ini. aku teringat saat berkenalan dengan wanita ini. saat nafas Rina terengah – engah menemuiku di taman itu. Saat Rina mengirim sms padaku. Dan akhirnya aku pun harus melupakan semua itu.
3 hari 2 malam yang memberi misteri padaku.



 100 Days
40 hari setelah kepergian Rina, aku pun berkelana mencari sesosok wanita yang bisa mengobati hati yang sepi ini. perlahan ku langkahkan kaki ini. hari itu hari minggu. Aku mengunjungi suatu tempat yang agak  jauh dari kontrakanku.  Tepatnya di km 97. tempat itu bernama Pasar Bunga. Pasar Bunga diadakan tiap seminggu sekali, dan adanya di minggu pagi.  Aku pun memulai perjalananku dengan satria yang selalu setia padaku.
Pagi itu aku mengendarai motorku dengan santai sambil menghirup udara segar di pagi hari. Tibalah aku di suatu jalan yang penuh tikungan. Di suatu jalan yang bertikung tajam ku lihat ada seorang wanita yang terjatuh dari motornya. Aku pun menghentikan motorku dan menghampiri wanita itu. Sepertinya aku kenal dengan sosok wanita itu. Ku coba mengingat, tetapi tak ingat juga. Ku coba mendekati wanita itu. Setelah dekat dengan wanita itu, akhirnya aku ingat dengan wanita itu. Sepertinya dia Luci. Ya Luciana Indrasari. Teman SMP ku  dulu. Aku segera menolong wanita itu bangun dari tempat dia jatuh.  Wanita itu bingung menatapku.
“ hay” sapaku pada wanita itu.
“ terima kasih maz” jawab wanita itu.
Wanita itu sepertinya masih kesakitan dengan luka yang ada di lutut kananya.
“ sekali lagi terima kasih maz” kata wanita cantik itu.
Wanita berparas cantik, dengan bola mata yang bulat dan hidung yang mancung. Semakin menambah kecantikannya. Tinggi tubuhnya semakin membuat postur tubuhnya indah.
“ sama – sama, namanya juga teman harus saling tolong - menolonglah “ jawabku dengan sedikit senyuman.
‘”teman? “ tanya wanita itu penasaran.
“ iya teman. Kamu Luci kan? “ tanya ku berharap tebakanku benar.
“ Lho ko anda tahu?, memangnya anda siapa?” tanya Luci semakin penasaran.
“ sudahkah kau lupa padaku? “ godaku pada Luci.
“ maaf sepertinya saya tak mengenal anda “. Jawab Luci.
“ OK, kalau begitu mari kita kenalan kembali “. Jawabku dengan senyuman kecil.
“ aku Day, Ahmad Day. Siswa SMP Tunas Bangsa 9 tahun yang lalu, tepatnya di kelas 3D.” Kata ku sambil mengulurkan tangan pada Luci.
Dengan raut wajah yang terkejut  Luci pun berkata, “ ya Ampun Day, kamu Day yang suka terlambat itu kan? “
“ iya” jawabku dengan sedikit kecewa karena yang diucapkan Luci padaku adalah perilaku jelekku.
Memang aku seorang Day yang suka terlambat datang ke sekolah. Tapi jangan salah, aku adalah siswa teladan di sekolahku. Beberapa kali ku menduduki peRinagkat 1 siswa paling teladan se- propinsi di kotaku.
“ oh iya Day, aku harus segera pergi, karena ditunggu oleh anak didikku” kata Luci.
“ oh iya , ta apa Luc” jawab ku dengan segera.
“ ini kartu namaku, semoga kita bisa bertemu kembali” ucap Luci sambil menyerahkan sebuah kartu nama padaku. kemudian Luci meninggalkanku sendirian di tikungan itu. Aku pun segera meninggalkan tikungan itu.
***

Minggu sore pun tiba. Rasanya badan ini lelah sekali setelah seharian berkelana di Pasar Bunga. Sambil melepas lelah di kasur kesayanganku aku mulai merogoh sakuku. Ku ambil kartu nama yang diberikan Luci padaku tadi pagi.
Kartu nama yang cantik seperti orang yang memilikinya.



LUCI INDRASARI
Jln. Mawar no. 9 JakTim
TK Harapan Bunda
Jln. Seta no. 2 JakTim
089756463636

Ternyata Luci seorang guru PAUD juga. sama seperti Almarhumah Rina.
Tak ku sangka, Luci seorang anak Dirut sebuah PT ternama di Indonesia bisa menjadi seorang guru PAUD. Setelah mengetahui alamatnya, aku mempunyai niat untuk mengunjunginya. Nampaknya hati ini punya firasat dengan wanita itu.
Malam pun semakin gelap. Aku pun memulai tidurku menuju dunia mimpi.
***

 Senin pagi pun tiba, kebetulan aku tak ada jam mengajar. Aku berniat mengunjungi Luci yang sejak kemaRina masih teRinagat di kepalaku. Aku pun bergegas untuk mandi kemudian berangkat dengan satriaku.
***

Tepat pukul 10.00 WIB aku sampai di tempat Luci mengajar. Dan akhirnya aku bertemu Luci kembali.
“ hay Luc” sapaku pada Luci.
“ hay Day” jawwab Luci membalas sapaanku.
“ hari ini ada acara kemana?” tanyaku pada Luci.
“ hari ini aku ada rapat yayasan di Jln. Imam bonjol Day”  jawab Luci  dengan yakinnya.
Mendengar perkataan itu aku sedikit kecewa, padahal aku ingin sekali mengajak Luci ke suatu tempat yang pernah jadi kenangan dalam hidupku.
“ ya sudah Luc,ku kira kau tak ada acara” jawabku dengan nada kecewa.
“ maaf Day, mungkin lain kali lagi kita berbincangnya ya, aku sudah ditunggu oleh pihak yayasan” kata Luci sambil meninggalkanku dengan buru – buru.
“iy Luc, hati – hati di jalan”  sahutku membalas ucapan Luci.
Setelah sosok Luci menghilang, aku pun segera meninggalkan sekolah Anak Usia Dini itu.
***


Senin malam selasa , malam itu membuatku teRinagat dengan Rina. Wanita yang sangat ku cintai. Cinta tak harus memiliki lagu ST 12 itu melantun di blackberryku. ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tak ku kenal. XXX30 . no Luci.

‘ Day besok ku tunggu di Taman Cibubur jam 09.00 WIB. Jangan telat ya. @Luci’

Sms itu terasa menusuk hatiku. Mengingatkanku pada Rina, wanita yang sangat ku cintai. Aku tak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Segera ku jawab sms itu ‘ ya, OK Luc’. Sending message dan akhirnya sending ke xxx30.
***

Selasa pagi tiba. indahnya mentari hari ini. membuatku bersemangat. Waktu menunjukkan pukul 08.00 akupun segera berangkat menuju Taman Cibubur dengan satria tercintaku.
***


Tepat pukul 08.45 aku tiba di Taman Cibubur. Aku memarkirkan satriaku, kemudian masuk ke dalam taman. Ku mulai mencari sosok Luci. Luci pun belum ku temukan. Hari ini nampak aneh sekali. Taman yang biasa dibuka untuk umum terasa sepi sekali. Dan anehnya lagi, taman yang indah itu dihias dengan pelaminan dan  tenda ungu . layaknya ada resepsi pernikahan di taman ini.
Sudah lama ku cari sosok Luci, tapi tak ku temukan juga sosok Luci.
Tiba – tiba ada suara petasan ku dengar. Dan muncullah segerombol orang yang pernah ku kenal. Mereka adalah Nisa, Ridwan, Arul, ibunda Rina serta keluarga ku dan keluarga besar Luci.
“ ada acara apa di sini, kok pada kumpul semua?” tanyaku penasaran.
Petasan kedua berbunyi. Aku semakin penasaran.
“ Nis ada apa ini? “ tanyaku semakin penasaran.
Lalu Nisa melangkah maju dan memberikan penjelasan padaku.
“ Dengarkan aku Day!, hari ini 100 hari kepergian Rina. Dulu sebelum meninggal Rina sempat mencurahkan isi hatinya pada Luci. Rina mengatakan semua tentang mu pada Luci. Dan permintaan terahir Rina adalah menyuruh Luci untuk menikah dengan lelaki yang dicintainya. Yaitu kamu Day. Kami juga tak tahu kalau Rina sempat memberikan permintaan ini pada Luci. sebenarnya Luci tak ingin melakukan hal ini, tetapi ternyata takdir berkata lain. Ternyata Tuhan mempertemukan kalian tanpa rencana. Dan Luci pun ternyata jatuh cinta padamu Day. Dia jatuh cinta padamu saat ditolong olehmu. Dan karena Luci mencintaimu, kami ingin memepersatukan kalian dalam satu ikatan suci. Dan juga untuk merealkan permintaan Rina pada Luci. Karena menurut Rina, Lucilah yang cocok untukmu.” Kata Nisa memberiku penjelasan sedetail – detailnya padaku.
Aku pun tercengang mendengar itu semua. Lalu aku mengatakan perasaanku pada Luci yang sebenarnya di hadapan mereka.
“ sebenarnya aku juga mencintai Luci layaknya aku mencintai Rina, karena aku menemukan sosok Rina di dalam wajah Luci.” Jawabku dengan jujur pada mereka yang hadir di pagi yang cerah itu.
“ aku mencintaimu dengan hatiku yang tulus Luc. Aku ingin menikahimu, menjadikanmu pelabuhan terakhirku. aku sangat mencintaimu. Will You Merry me? “ tanya Day pada Luci.
“ Aku juga sangat mencintaimu dengan hati yang tulus Day, I will be your wife”  jawab Luci dengan yakin.
    Gemuruh tepuk tangan terdengar setelah mendengar jawaban Luci. Akhirnya hari itu mereka menikah di hari itu juga. Tepat 100 hari setelah kepergiaan Rina.
‘Rina telah aku penuhi permintaanmu, semoga kau tenang di sana’ gumam Day dalam hati setelah mengikrarkan akad nikah.

THE END


Kamis, 01 Mei 2014

Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang UngguL

Hari Pendidikan Nasional 2014 (Hardiknas) yang jatuh pada Jumat, 2 Mei 2014 bukan hanya sekadar peringatan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Tahun ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mencetuskan tema “Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul”.
Pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya, kita mengenang kelahiran Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Perintis Pendidikan Nasional. Jasa beliau terhadap dunia pendidikan demikian besar. Semasa hidup, Ki Hajar Dewantara senantiasa menggaungkan kebebasan belajar untuk kaum pribumi, hingga pada tahun 1882 tercetuslah ide mendirikan sekolah Taman Siswa.
Perguruan Taman Siswa sendiri merupakan lembaga pendidikan yang membuka kesempatan bagi orang-orang pribumi dari kalangan bawah untuk memperoleh hak pendidikan yang setara dengan para priyayi dan orang Belanda. Dengan demikian, ilmu bukan hanya milik kaum elite, melainkan milik semesta dan bisa dipergunakan untuk semesta pula.
Peringatan Hardiknas hendaknya digunakan sebagai momentum demi memperkokoh kesadaran bangsa tentang pentingnya pendidikan yang bermutu. Ketika seluruh rakyat Indonesia telah sadar akan hal ini, mereka akan bersatu dan berkomitmen penuh untuk membantu terciptanya pendidikan berkualitas yang nantinya memberi faedah demi kemajuan bangsa di masa depan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sendiri telah mencanangkan tema ‘Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul’ untuk Hardiknas tahun ini. Disebutkannya, pencanangan tema ini akan membuat bangsa Indonesia menyadari pendidikan bukan hanya untuk membahas masalah kekinian yang sifatnya teknis. Lebih dari itu, pendidikan digunakan sebagai sarana ‘memanusiakan manusia demi membangun peradaban bangsa yang unggul.