dakwatuna.com - “Assalamu’alaikum…,” sapaku pada Kak Amanda yang tengah sibuk dengan ponselnya di kamar.
“Wa’alaikum salam… Hei, An, sudah pulang kamu?
Tumben cepat?” celoteh Kak Amanda sambil terus sibuk memekuni layar ponselnya.
“Hari ini
enggak jadi liqa’, murabbiyahku tiba-tiba sakit,” ucapku tak bersemangat.
“Oh, ya sakit apa dia?”
“Katanya sih, maagnya kambuh.” Kak Amanda hanya manggut-manggut mendengar jawabanku barusan.
“Senang banget, Kak. Sedang SMS siapa sih?”
“Siapa lagi?” Kak Amanda tersipu mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.
“Kakak sedang SMS-an sama Kak Fatih?” selidikku.
“Yupz!
Tepat sekali! Dia itu sangat menyenangkan ya, An?” nampak sekali raut
kebahagiaan terpancar dari wajah manisnya yang putih mulus.
“
Astaghfirullah,
Kakak! Kak Fatih itu sedang halaqah, Kak. Jangan diganggu dong!”
tegurku pada kakakku yang sepertinya sedang terserang wabah virus merah
jambu itu.
Kak Fatih adalah murabbi kelompok liqa ikhwan di
sekolahku. Dia juga seorang aktifis rohis di kampusnya yang tak jauh
dari sekolahku. Karena itulah dia beserta teman-temannya berinisiatif
membina kelompok keagamaan di sekolahku.
Kak Amanda mengenalnya
saat menjemputku di sekolah suatu sore. Saat menungguku yang masih ada
agenda liqa itulah dia mengenal Kak Fatih yang kebetulan juga tengah
menunggu temannya. Sebenarnya, Kak Amanda dan Kak Fatih satu kampus.
Hanya saja, mereka berlainan fakultas.
Rupanya, perkenalan sore
itu menghadirkan keakraban di antara mereka. Sejak saat itu,
kuperhatikan tingkah Kak Amanda mulai berubah. Dia mulai rajin shalat,
mengaji, dan membenahi pakaiannya dari yang semula agak ketat menjadi
pakaian longgar yang tidak lagi menampilkan bentuk tubuhnya, serta
mengganti jilbabnya menjadi jilbab lebar yang benar-benar jilbab, bukan
lagi jilbab yang dililit-lilit sedemikian rupa.
“
Subhanallah… Alhamdulillah ya Allah. Engkau telah memberikan sedikit demi sedikit hidayah-Mu pada Kak Amanda,” ucapku dalam syukurku.
Belakangan,
baru kuketahui bila perubahan-perubahan kakakku itu termotivasi oleh
Kak Fatih. Pernah suatu ketika, aku iseng membuka kotak pesan kakakku
saat dia tengah di kamar mandi. Kutemukan seabrek pesan singkat dari Kak
Fatih. Kak Amanda begitu rajinnya melontarkan pertanyaan-pertanyaan
seputar keislaman dan Kak Fatih pun dengan sabarnya menjelaskan secara
detil setiap pertanyaan Kak Amanda.
“Ya, Allah… sudah sedekat inikah mereka rupanya?” pekikku dalam hati
***
“An, kok bisa ya Kak Fatih baik banget
gitu?” tanya Kak Amanda selepas shalat Isya.
“Aduh, Kakak ini. Baru juga selesai shalat sudah
ngomongin dia lagi. Jangan-jangan tadi pas lagi shalat, Kakak mikirin dia, ya?” Kak Amanda tersipu malu.
“Hmm… memang… baik gimana, Kak?” selidikku.
“Ya, baik. Dia itu lembut, sabar, udah
gitu perhatian lagi.”
“Kakak suka sama Kak Fatih?” lagi-lagi aku menangkap rona merah pada wajah kakak.
“Cewek mana sih, An, yang
nggak
suka sama ikhwan sejati macam dia? sederhana dan bijaksana,” dengan
semangatnya pujian demi pujian terhadap Kak Fatih terlontar dari bibir
Kak Amanda.
“Hmm… Dia memang sejatinya ikhwan sempurna, Kak. Ya, setidaknya untuk masa sekarang ini. Tapi sebaiknya Kakak hati-hati.”
“Hati-hati? Maksud kamu??”
“Pastinya,
bukan cuma Kakak yang memiliki perasaan seperti itu untuk seorang
ikhwan sebaik dia. Annisa cuma nggak ingin nantinya Kakak menjadi kecewa
karena terlalu dalam mengharapkannya,” ucapku sok menasihati.
“Kamu juga menyukainya, An?” tanya Kak Amanda harap-harap cemas.
“Kak… Annisa ini masih terlalu kecil untuk hal seperti itu. Baru juga kelas 3 SMA.”
“Gimana kalau ternyata Kak Fatih memilih kamu?” aku tersentak menerima pertanyaan itu.
“Jodoh
itu sudah ada yang mengatur, Kak. Yang pastinya, Annisa bakal bersyukur
banget bisa mendapatkan hatinya. So, Kakak harus menerimanya dengan
ikhlas, ya? hehe,” jawabku berusaha santai.
Kak Amanda melempar gulingnya ke arahku, “Huu..!”
Aku
menarik selimut dan membenamkan diriku di dalamnya. Membiarkan
kehangatannya memelukku di sepanjang malam. Mengusir gundah yang
tiba-tiba bertebaran dalam hatiku bersama secercah cemburu yang
bergelayut di jiwaku.
***
Ada perasaan yang mulai
mengganggu. Saat setiap hari aku harus menyaksikan raut kebahagiaan di
wajah Kak Amanda setiap dia memegang ponselnya. Saat setiap malam aku
harus mendengarkan cerita kakakku satu-satunya itu tentang kekagumannya
pada Kak Fatih. Perasaan apa ini? Apa ini namanya cemburu?
Perlahan, aku mulai menjaga jarak dengan murabbi kelompok ikhwan itu. Aku
nggak
ingin perasaanku jatuh terlalu dalam pada kesehajaan ikhwan dambaan
itu. Aku pun tak ingin membuat Kak Amanda kecewa bila dia mengetahui
kedekatanku dengan Kak Fatih.
“Sudahlah, An. Nggak penting mikirin
hal begituan. Mending fokus sama halaqah aja. Mana sebentar lagi Ujian
Nasional,” aku berbicara pada diriku sendiri.
Terkadang… begitu
ingin bercerita kepada murabbiku tentang kemelut perasaan ini. Tapi, aku
malu. Aku malu karena telah gagal menjaga hatiku.
“SMS yang
nggak
penting itu sebaiknya nggak usah terlalu dihiraukan. Untuk menjaga hati
aja,” begitulah kata murabbiyah cantikku itu saat aku kepergok tengah
berSMS-an ria dengan Kak Fatih.
Ya, jauh sebelum Kak Amanda
mengenal dan menjadi akrab dengan Kak Fatih, aku telah lebih dulu akrab
dengannya. Aku sering berbagi cerita dengannya dan Kak Fatih sendiri pun
seolah tak lagi segan untuk bercerita apapun padaku. Dia begitu
mengerti aku dan selalu memberikan semangat ketika aku mulai goyah. Kak
Amanda
nggak pernah salah. Karena Kak Fatih memang sangat baik
dalam memperlakukan perempuan. Dia sangat lembut, terbuka, dan begitu
dewasa. Mungkin, memang seperti itulah sikapnya pada setiap perempuan.
Tapi sejauh ini, kurasa aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak
laki-laki yang begitu menjaga dan melindungi.
***
Aku
menghempaskan tubuhku di kasur yang lumayan empuk. Hari ini terasa
begitu melelahkan. Padahal, aktifitasku berjalan seperti biasanya,
sekolah dan ikut ekstra kurikuler –Mading, KSI (Kelompok Studi Islam),
Pramuka- lantas pulang ke rumah.
Usai mandi, aku berjalan menuju
rak buku yang terletak di sudut kamar, bermaksud meraih novel
kesayanganku yang belum habis kubaca seri kelimanya. Tetapi entah
kenapa, sorot mataku menyinggahi sebuah buku bersampul kuning yang tidak
terlalu tipis dan tanganku pun tergerak untuk meraihnya.
“Ini
kan, buku Kak Fatih?” gumamku setelah mengenali buku yang sering di
tenteng sang murabbi itu. Aku menemukan sehelai kertas biru beraroma di
antara halaman buku itu. Dengan perlahan dan sangat hati-hati kubuka
lipatan kertas manis itu.
Assalamu’alaikum, Kak Fatih…
Maaf
telah lancang menuliskan surat ini untuk Kakak. Tapi, hanya lewat surat
ini ana berani untuk menyampaikan rasa terimakasih kepada Kakak yang
selama ini telah bersedia membimbing dengan penuh kesabaran.
Jujur,
ana sangat bersyukur bisa mengenal Kakak. Karena melalui Kakaklah, ana
dapat memahami akan pentingnya menjaga diri dan merasakan keindahan
Islam. Ana benar-benar sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Kakak.
Walaupun akhirnya, persahabatan ini memiliki arti lain di hati ana.
Maaf, ana telah jatuh cinta pada kesederhanaan dan kesahajaan Kakak.
Jika boleh, ana sangat mengharapkan Kakak untuk menjadi imam ana ke
surga nantinya. Aaamiin.
Wassalam…
-Amanda-
Tubuhku
tiba-tiba gemetar membaca isi tulisan itu. Kak Amanda… Kak Amanda
berniat untuk mengungkapkan perasaannya pada Kak Fatih. Bahkan, secara
terang-terangan dia mengatakan bahwa dia mengharapkan Kak Fatih untuk
menjadi imamnya. Itu artinya….
Setetes butiran bening jatuh dari
mataku. Segera kuseka dengan jemariku sebelum tetesannya terlanjur
melunturkan ungkapan hati itu. Kulipat kembali kertas itu dan
kukembalikan ke tempatnya. Aku pun kembali menuju ranjang tanpa sempat
memungut buku yang tadinya ingin kubaca. Kubenamkan wajahku di bantal,
dan tangisku pun pecah menyeruak.
Aku tau dan aku sadar, cemburu itu… benar adanya.
Ada… saat kutahu dia begitu dekat denganmu.
Jauh melebihi kedekatanku dengannya
Aku tau dan aku sadar, cemburu itu…
Tak sepantasnya membenam di jiwaku.
Karena aku… Bukan siapa-siapa…
Hari
ini, aku baru benar-benar mengerti tentang kemelut yang kurasakan
selama ini. Ya, ternyata, benar itu adalah cinta. Ternyata, aku pun
jatuh cinta pada Kak Fatih. Tapi aku masih terlalu kecil untuk berbicara
tentang cinta. Mungkin, Kak Amanda memang lebih berhak mendapatkan Kak
Fatih. Kak Amanda cantik, baik, dan usia mereka hanya terpaut 2 tahun
lebih tua Kak Fatih. Sedangkan aku jauh lebih muda 4 tahun dari Kak
Amanda.
Ya, Allah… Ajarkan aku untuk ikhlas melepaskannya.
***
“Annisa…,” Kak Amanda memanggil saat aku hendak pergi ke sekolah bersama ayah.
Aku pun menghentikan langkah dan membalikkan badan.
“Ada apa, Kak?”
“Hari ini kamu ada agenda liqa’, kan?” tanyanya penuh harap.
Aku hanya mengangguk heran, dan Kak Amanda menyerahkan sebuah buku padaku.
“Titip ini buat Kak Fatih, ya?”
Deg! Jantungku terasa berhenti berdetak. Kusambut buku itu dengan senyuman, kemudian berangkat ke sekolah diantar ayah.
“Assalamu’alaikum, An.
‘Afwan, Kakak
nggak bisa liqa’ hari ini. Ada kepentingan yang
nggak
bisa ditinggalkan. Minta tolong disampaikan sama teman-teman, ya?
Syukron,” Kak Nabila, murabbiku mengirim SMS pada jam istirahat pertama.
Aku pun langsung mengabari teman-teman yang lain.
“Assalamu’alaikum, An. Hari ini Kakak
nggak
bisa liqa’. Tapi, tadi sudah Kakak sampaikan sama Ikhsan. Hanya saja,
sore ini Kakak pingin ketemu kamu, bisa?” tak lama berselang, SMS Kak
Fatih ikut-ikutan nimbrung di kotak masukku.
“Wa’alaikum salam. Insya Allah bisa, Kak. Jam berapa?”
“
Ba’da Ashar, ya? Sebaiknya ketemu di mana? Di sekolah atau Kakak mampiri ke rumah kamu aja?”
“Hmm…
ba’da Ashar sih ana udah di rumah, Kak. Kalau
nggak repot, boleh
deh Kakak aja yang ke rumah.”
“Oke… kalau begitu, nanti sore Kakak langsung ke rumah Annisa aja.”
“Sip, Kak.”
Obrolan via SMS itu berakhir seiring berbunyinya bel delapan kali pertanda jam istirahat telah berakhir.
Sepulang sekolah, kuserahkan kembali buku yang tadi pagi dititipkan Kak Amanda padaku.
“Lho, kenapa?”
“Hari ini
nggak ada liqa’, Kak?” kulihat seraut wajah yang dilanda kekecewaan tepat di hadapanku.
“Tapi, katanya Kak Fatih hari ini mau ke sini,
ba’da Ashar.”
“Serius
kamu, An? Mau ngapain?” senyum mengembang di bibir Kak Amanda seolah
menghapus selaksa kesedihan yang tadi sempat singgah. Aku pun tersenyum
mengiyakan pertanyaan kakakku itu kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Usai
shalat Ashar, aku melanjutkan membaca novel kesayanganku. Sementara Kak
Amanda nampak tengah sibuk memoles dirinya di depan cermin.
“Apa mungkin kali ini, Kak Amanda akan
nekat ngomong langsung tentang perasaannya ke Kak Fatih, ya? bukan lagi melalui surat.” gumamku dalam hati.
Bersamaan dengan itu, kudengar ucapan salam dari luar rumah disertai ketukan pintu tiga kali.
“An,” Kak Amanda mengisyaratkan aku untuk membukakan pintu. Aku pun beranjak dari tempat tidur.
“Wa’alaikum salam…,” sahutku sembari membuka pintu.
“’Afwan, An, mengganggu waktunya sebentar.”
“
Nggak apa-apa, Kak. Mari silakan masuk,” aku mempersilakan sang murabbi itu masuk dan duduk di ruang tamu.
Tak
lama kemudian, Kak Amanda muncul dengan membawa baki berisi air minum
dan satu toples makanan ringan, lalu menyuguhkannya pada Kak Fatih.
“Silakan, Kak. Oh iya,
tumben ke sini. Ada apa, Kak?” aku melirik sekilas pada Kak Amanda.
“Ana
cuma ingin mengantarkan ini saja secara langsung sama kalian. Karena
ana sudah menganggap kalian ini seperti saudara sendiri. Ana berharap
kalian berkenan untuk hadir,” ujar Kak Fatih tanpa basa-basi.
Aku menerima amplop hijau itu dan perlahan mengambil isinya kemudian membacanya.
Walimatul ‘Ursy
Muhammad Al-Fatih Fadhillah dengan Nabila El-Jihan.
Minggu, 18 Maret 2012
Aku tersentak membaca undangan itu, ada selaksa kesedihan yang menyeruak dalam bathinku.
“
Barakallahu… Selamat ya, Kak.
Nggak nyangka
banget kalau Kakak ternyata berjodoh dengan murabbiku sendiri, Kak
Nabila,” ucapku berusaha tersenyum sembari menyerahkan kertas undangan
itu pada Kak Amanda. Kulihat Kak Amanda hanya terdiam dengan genangan
airmata yang berusaha disimpannya agar tak sampai terjatuh di hadapan
Kak Fatih.
“Alhamdulillah… Orangtua ana yang memilihkan
dia untuk ana. Baiklah, kalau begitu ana pamit ya? Terimakasih atas
waktu kalian. Ana benar-benar berharap kalian berkenan hadir di walimah
ana nanti,” Kak Fatih pun beranjak dari tempat duduknya. Aku mengantar
kepulangannya hingga depan pintu.
***
Aku menatap Kak Amanda
dengan wajah sendu. Dapat kurasakan kepedihan mendalam yang dirasakan
Kak Amanda saat ini. Kak Amanda membalas tatapanku dengan sejuta
gambaran kesedihan di raut wajahnya. Kemudian dia beranjak dan
menghambur memelukku.
“An, ternyata benar ya. Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik dan begitu pun sebaliknya.”
“Sudah lah, Kak. Mungkin memang bukan Kak Fatih yang terbaik untuk Kakak.”
“Bukan Kak Fatih yang nggak baik buat Kakak, An. Tapi justru Kakaklah yang belum baik buat dia.”
“Allah
pasti punya rencana indah di balik semua ini,” ucapku berusaha
menegarkan Kak Amanda, atau lebih tepatnya menegarkan hatiku.
Kak
Amanda berlari menuju kamar. Menumpahkan segala rasa indah yang telah
tergores di hatinya. Sementara itu, aku memungut kembali kertas undangan
bernuansa hijau itu. Mencoba meyakinkan lagi hatiku. Bahwa perasaanku
telah terbunuh oleh pernikahan para murabbiku.